Sunday, September 25, 2016

Masjid Kubro di Koto Pomban



Rumah Ibadah Muslim masa Kerajaan Kampar. Masih berdiri kokoh meski sebagian material bangunan diganti. Bentuknya juga sedikit berubah.
 
Oleh Agus Alfinanda

SEBUAH gapura setinggi lima meter berdiri di depan masjid, tepat di tepi jalan. Tiangnya ada delapan. Empat di sisi kiri dan empat di sisi kanan. Lebarnya sekira tiga meter. Tiang tersebut diberi cat biru. Bagian atas beratap seng. Sebelah kiri gapura tersedia tempat parkir kendaraan roda dua.

Jarak antara gapura dengan masjid sekitar dua puluh langkah kaki orang dewasa. Jarak ini dijadikan pekarangan masjid yang dilapisi paving block. Tak ada pohon atau tanaman hias apa pun dalam pekarangan. Tembok setinggi bahu orang dewasa mengelilingi pekarangan dan masjid. Rumput liar memenuhi tiap sudut pekarangan.

Jika berdiri di tengah pekarangan, terlihat atap masjid berbentuk limas berlapis tiga. Ujung atapnya runcing. Tiap sudut cucuran atap terdapat ukiran sayap layang-layang. Bagi masyarakat Melayu setempat, bentuk ini bermakna kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.

Sebelah kiri pintu masuk jamaah wanita tersedia tempat wudhu berikut toilet. Tepat depan pintu yang sama berdiri satu menara. Tingginya melebihi bangunan masjid. Sebelum memiliki alat pengeras suara, azan dikumandangkan dari atas menara oleh muadzin.

“Terakhir orang azan di atas menara ini tahun 1965,” kenang Darun Nafis, Ghorim Masjid yang sudah berusia 65 tahun.

Untuk masuk ke dalam masjid melalui dua arah. Pintu masuk bagi jamaah laki-laki sebelah utara searah dengan gapura. Sedangkan untuk jamaah perempuan lewat pintu sebelah timur. Kata Darun Nafis, dulu, dekat pintu masuk jamaah perempuan terdapat tangga yang menghubungkan ke menara. “Dari sinilah muadzin naik,” ujarnya sambil menunjukkan bekas lokasi berdirinya tangga.

Sebelum masuk ke dalam masjid, terlebih dahulu meniti lima anak tangga. Tiba di dalam, pandangan akan tertuju ke seluruh isi masjid. Lebar masjid sembilan shaf. Empat shaf untuk laki-laki dan lima shaf untuk perempuan. Lantainya berlapis keramik berukuran 30 kali 30 centimeter yang ditutup oleh sajadah.

Terdapat enam belas tiang penyangga di dalamnya. Empat tiang di tengah tingginya mencapai tiga belas meter. Jarak antar tiang sekitar dua meter. Masing-masing tiang dipasang kipas angin. Tiang ini dari kayu dan sudah terlihat keropos. Sekilas tiang ini seperti baru karena dilapisi cat putih.

Dinding masjid terbuat dari material beton. Separuhnya dilapisi cat warna kuning separuhnya lagi dilapisi keramik. Tiap sisi dinding terdapat jendela. Jumlah keseluruhannya 27.

Dinding bagian depan dipenuhi ukiran kaligrafi yang dipahat langsung dari dinding. “Pemahatnya orang dari air tiris,” jelas Hasyim, Imam pertama Masjid sekaligus Ketua Pembangunan Masjid. Tinggi dinding masjid satu jengkal di atas kepala orang dewasa.

RUMAH ibadah bagi umat muslim ini diberi nama Masjid Kubro. Berdiri di Dusun Padang Merbau Barat, Desa Koto Perambahan, Kecamatan Kampar Timur. Sekitar 30 kilometer dari Kota Pekanbaru. Masyarakat setempat menyebut daerahnya Koto Pomban.

Sebelum diberi nama Masjid Kubro, pada awal berdirinya masjid, masyarakat setempat menyebutnya Masjid Raja Pekantua. Dinamakan demikian karena masjid tersebut dibangun oleh Raja dan disekitar masjid terdapat pasar yang dinamakan Pekantua— pekan nama lain dari pasar.

Sejak 1933 pasar tersebut dipindahkan ditepi jalan lintas Pekanbaru-Bangkinang. Orang mengenalnya pasar Kampar. Kini, bekas pasar di sekitar masjid sudah dipenuhi pemukiman warga.

Tak ada yang tahu pasti kapan berdirinya Masjid Kubro. Al Afendi yang kerap disapa Datuk Pondi menyebutkan, sekitar tahun 1805 atau 1815.

“Tapi, Masjid Kubro adalah rumah ibadah pertama di Kenegerian Kampar. Lebih tua dari Masjid Jami di Air Tiris yang dibangun pada 1901,” ujar pria yang bergelar Datuk Majo Besar.

Hasyim berkata lain, sepengetahuannya, Masjid Kubro dibangun pada 1897. Darun Nafis sendiri tidak mengetahui sama sekali. Peralihan nama Masjid Pekantua ke Masjid Kubro sendiri diakui sekitar tahun 1990-an. Nama Kubro dipakai karena Masjid tersebut satu-satunya yang ada pada waktu itu dan cukup besar. Kubro dalam bahasa arab artinya besar.

Kini di lokasi yang sama terdapat tiga masjid lagi dan lebih besar dari Masjid Kubro. Jarak antar masjid tidak begitu jauh.

Pertama didirikan, bangunan Masjid Kubro berupa rumah panggung. Dinding masjid condong ke luar. Materialnya didominasi oleh kayu hutan. Kata Datuk Pondi, atap masjid pun dari kayu. “Sekarang sudah diganti dengan seng,” ujar Hasyim. Jenis kayu yang digunakan waktu itu kayu angau.

“Jenis kayu itu tak ada lagi ditemukan,” kata Datuk Pondi.

Untuk berwudhu, disediakan air dalam kula—bak air yang tingginya kurang lebih satu meter— yang ditampung di bawah cucuran atap. Bila air habis, jamaah mengambil wudhu di sungai. Lima puluh meter dari masjid. Kini, tak ada lagi kula yang diceritakan oleh Datuk Pondi.

Renovasi yang pertama kali dilakukan pada lantai masjid. Kolong masjid ditimbun dengan batu kerikil yang diangkut dari sungai terdekat. Pengerjaan ini dilakukan oleh masyarakat setempat secara gotong royong. Lantai masjid pun dirubah jadi beton. Satu tahun kemudian 1974, giliran dinding masjid yang diganti dengan beton, bentuknya pun berubah.

“Waktu mengganti dinding, bagian dekat jendela ini sempat roboh karena penyangganya tidak kuat. Semennya juga belum kering waktu itu,” terang Darun Nafis sambil menunjuk jendela.

Renovasi berlanjut pada atap masjid. Perubahan ini diperkirakan pada masa Malin Boge. “Saat kecil saya sudah menjumpai atap itu berbahan seng,” ujar Yusuf, cucu Malin Boge. Yusuf sempat menjadi pengurus Masjid Kubro. Ia lahir 1930.

Almarhum Malin Boge merupakan tokoh adat yang membidangi agama. Almarhum pernah menjadi pengurus masjid. Boge dimakamkan di samping masjid sebelah selatan, di luar tembok.


Menurut Ani, cicit Boge, dulu tiap Jumat, jamaah berdatangan dari berbagai kampung. Seperti Kuapan, Pulau Rambai dan Jawi-jawi. Mereka ada yang datang menggunakan rakit untuk menyeberang sungai. Boge meminta istri dan perempuan desa menyiapkan makanan bagi jamaah yang datang dari jauh.

“Aghi apolah kan dimasak, ntah itu gulai cabodaklah kan, condo itu tiok jumat cito niniok dulu,” kenang Ani.

Yusuf menceritakan, semasa kecil, selain tempat shalat, Masjid Kubro juga tempat belajar mengaji bagi masyarakat. Guru-gurunya dari kampung sekitar. Seperti Air Tiris, Penyesawan dan Danau Bingkuang. Ada juga yang didatangkan dari Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Murid duduk bershaf menghadap guru sambil mendengar dengan seksama,” kenang Yusuf. Selain itu, perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Israj Miraj juga kerap dilaksanakan di Masjid Kubro.

PAGI, Jumat 29 Juli, kami mendatangi Kantor Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kampar, di Kota Bangkinang. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami pada seorang pegawai, ia mempersilakan untuk menunggu.

Tak lama, Syamsul Bahri Kepala Dinas, mengajak masuk ke ruangannya. Kami hendak mencari keterangan tentang Masjid Kubro. Darinya kami tidak memperoleh informasi banyak terkait bangunan tua itu. Tapi katanya, Masjid Kubro sempat ingin dijadikan cagar budaya. “Karena bentuknya sudah berubah, usaha itu urung dilakukan.”

Diakhir wawancara, Syamsul Bahri memberikan satu buku berjudul Sejarah Kampar. Namun, dibuka tersebut juga tidak ada menyinggung soal Masjid Kubro. Syamsul Bahri juga meminta kami untuk menjumpai A. Latih Hasyim, salah seorang penulis buku tersebut.

Rumah Latif di jalan Kartini, tak jauh dari Kantor Disparpora. Selain sebagai penulis, Latif juga mengkoleksi berbagai benda sejarah. Rumahnya dijadikan museum, diberi nama A. Latif Malay Museum. Darinya, kami juga tidak mendapatkan informasi banyak. Hanya saja ia mengatakan, dulu Masjid Kubro letaknya tidak jauh dari istana Kerajaan Kampar.*
Baca selengkapnya

Saturday, September 24, 2016

Ladu, Alam Kemanusiaan dan Romantisme

Sampul buku ladu

Judul        : Ladu
Penulis     : Tosca Santoso
Tebal        : v + 322 halaman
Terbit       : 2016
Penerbit    : Kaliandra


SEBUAH novel berjudul Ladu telah dilaunching di sebuah cafe jalan Rajawali, Pekanbaru, akhir Mei lalu. Green Radio—media informasi yang fokus mengabarkan tentang lingkungan—sebagai penanggungjawab peluncuran novel tersebut. Novel ini juga telah dilaunching dibeberapa tempat di Jakarta hingga Bogor.

Ladu dikenal dalam bahasa Jawa. Maknanya, endapan tanah merah. Seperti partikel Tuhan, ia pembentuk zat yang hidup dan tak hidup. Puitisnya, Ladu adalah awal dan akhir sekaligus.

Penulisnya Tosca Santoso. Ini adalah novel keduanya setelah Sarongge yang juga pernah diluncurkan di Pekanbaru. Keduanya bercerita tentang alam, kehidupan dan romantisme. Namun, Ladu mengambil background cerita dari perjalanan mendaki gunung.

Yanis dan Sunarti merupakan sepasang manusia yang menjadi tokoh dalam novel kali ini. Perjumpaan awal mereka pertama kali terjadi di Kaliadem, sebuah perkampungan dekat lereng gunung merapi.
Suasana kedatangan mereka untuk yang kedua kalinya sudah jauh berbeda. Kerucut merapi tidak lagi berbentuk sempurna akibat muntahan cairan magma yang baru saja reda dan menenggelamkan pemukiman. Kini, persis tempat mereka berdiri adalah sebuah perkampungan yang dulunya menjadi tempat persinggahan.

Dari sini mereka memulai petualangan dari gunung ke gunung. Dari Kaliadem, Liangan, Pelataran Dieng, Gede Pangrango, Kelud, Rinjani, Tambora hingga Lore Lindu. Mereka bermalam disetiap gunung yang disinggahi. Kopi asli yang diperoleh dari penduduk setempat menemani malam mereka.
Dari tiap lereng gunung yang mereka datangi mengalir banyak cerita. Cara masyarakat bertahan dan bergantung hidup dikaki gunung serta memahami tanda-tanda alam, menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi kedua insan ini.

Masyarakat tidak hanya semata mengambil hasil alam, tetapi juga menjaganya dan berdoa selalu agar
diberi keberuntungan dari sertiap peristiwa yang terjadi.

Segala macam ritual dan adat istiadat masih kental dilakukan oleh masyarakat. Ini semua demi menjalin kehidupan damai dengan alam, dan menghormati leluhur terdahulu. Tak jarang, Yanis dan Sunarti menerawang kembali sebuah peradaban yang dulunya pernah berjaya.

Ladu tidak hanya bercerita tentang letusan gunung dan hilangnya sebuah pemukiman dan kesuburan tanah. Malam-malam Yanis dan Sunarti dilereng gunung diisi dengan persoalan kemanusiaan, cinta, keyakinan dan keabadian. Dua hal ini menjadi perdebatan tersendiri antara mereka.

Meski memiliki keyakinan yang berbeda terhadap ciptaan Tuhan, mereka tidak semata menghujat keyakinan orang kebanyakan. Bagi mereka, keyakinan yang dianut adalah pilihan setiap insan. Adalah tanggungjawab insan tersebut dengan penciptanya atas keyakinan yang dipilih.

Mereka juga memprotes orang yang melakukan tindakan kekerasan hanya karena keyakinan yang dianut.

Beginilah hari-hari perjalanan mereka. Penuh dengan pertanyaan dalam hati. Mereka hanya bisa berdiskusi dan mencurahkannya satu sama lain. Menghabiskan waktu bersama dilereng gunung. Memahami tiap perisitwa yang terjadi dan mencari tahu kehidupan sosial masyarakat. Jarang keduanya pulang ke rumah.

Yanis adalah seorang pemuda dari wilayah timur Indonesia. Sedangkan Sunarti perempuan Jawa berkerudung yang dulunya taat beribadah.

Disatu kesempatan mengunjungi gunung di Pulau Jawa, Sunarti menyempatkan pulang ke rumah bersama Yanis. Ibunya yang sudah lama tak berjumpa merasa senang dan seketika murung saat melihat anaknya. Perubahan telah terjadi pada diri Sunarti. Ia telah keluar dari keyakinannya.

Kesedihan bahkan semakin mendera hati perempuan tersebut. Sunarti mengabarkan bahwa ia telah menikah dengan Yanis. Pernikahan ini tanpa sepengetahuan orangtuanya. Bahkan orangtua Yanis pun tidak mengetahuinya. Mereka menikah di Pager Jurang.

Meski begitu, ibu Sunarti tidak bisa menghalangi keinginan anaknya. Ia hanya berdoa agar anaknya selalu diberi perlindungan dan keselamatan, yang tentunya dibukakan kembali jalan hidup yang semula.
Cerita diatas hanya sepenggelan peristiwa dalam novel. Jika dibaca lebih jauh, banyak pelajaran yang dapat dimaknai. Terutama bagaimana hidup damai dengan alam, menghargai dan menjaganya. Sisi kemanusiaan yang ditampilkan dalam cerita ini juga dapat menjadi renungan. Cinta dan romantisme hanyalah sebagai jalan tengah dalam alur cerita.

Tak ketinggalan, sebagai penikmat kopi, berbagai macam jenis bubuk hitam khas nusantara ini juga diperkenalkan oleh Tosca Santoso.*Agus Alfinanda.
Baca selengkapnya

Wednesday, September 21, 2016

Dedikasi dan Seni


Jalan Pangeran Hidayat dilihat dari Google Maps

“Usaha turunan atau sistem regenerasi,” demikian usaha ini bisa bertahan, bahkan mampu berkembang. Meskipun para pebisnis plakat menerima upah yang tak banyak, skill yang dipunya tentulah sangat mahal harganya.

Oleh Irwan Situmorang


   Menelusuri Jl. Pangeran Hidayat dan Jl. Ahmad Yani, kemudian tembus di Jl. Sudirman, beragam aktifitas ekonomi masyarakat terpampang di depan mata kita. Salah satunya adalah kesibukan para pengrajin, seperti pengrajin plakat, stempel, spanduk hingga sticker tumplek. Jika kita amati lagi dengan seksama, kita akan dipuaskan dengan berbagai  hasil kerja pebisnis seni ini, yang sengaja mereka pajangkan di sepanjang Jl. Pangeran Hidayat.

    Usaha yang dilakoni masyarakat ini bersifat turunan atau regenerasi. Konon, usaha ini dirintis oleh satu orang saja, Ibrahim namanya. “Pak Ibrahim, suami saya yang pertama buka usaha di daerah ini,” ujar Yani (47), istri Ibrahim ikut membantu usaha suaminya tersebut. Buah dari usaha itu, Ibrahim kini telah memiliki sebuah toko. Namanya “Ferry Reklame”. Dengan enam orang tenaga teknisi, “Ferry Reklame” dalam kesehariannya memproduksi plakat dan poster.

    Sebagian besar para pelaku usaha di tempat ini mengenal baik Ibrahim dan pernah bekerja kepadanya. “Mereka yang bekerja disini, banyak diantaranya yang telah buka usaha sendiri,” ujar Yani. Bahkan dua orang putra Ibrahim pun kini ikut membuka usaha yang sama.

    Kembali ke masa lalu, Ibrahim menceritakan bahwa awal menjalani usahanya, sekitar 20 tahun silam ia hanya bermodalkan gerobak dorong. Dengan alat ini, ia menjajakan produknya keliling Jakarta dan kadang mangkal di Proyek Senen Jakarta. Tahun 1994 Ibrahim hijrah ke Pekanbaru. Ia pun mulai membuka usahanya. Tepatnya di JL. Pangeran Hidayat. “Dulu kami menyewa kedai (toko, red) disana,” ujar Yani menunjuk ke arah selatan.

    Selain Ibrahim, juga ada Ardi (35). Pria berdarah Padang ini telah melakoni usaha yang sama hampir 11 tahun lamanya. “Delapan tahun saya bekerja pada orang lain, kini saya bisa buka usaha sendiri,” tutur Ardi. Ia memiliki kios berukuran 3x4 meter yang terletak di Jl. Pangeran Hidayat.

    Untuk mengasah ketelatenan dalam menghasilkan produk yang memuaskan, para pebisnis ini sebelum mendirikan usaha sendiri, menyibukkan dirinya dengan berguru pada yang lebih mahir. Yayasan Bina Insani Riau Utama (Yabiru) adalah salah satunya. Yayasan milik H. Beretta Hasan ini bergerak di bidang pembinaan anak putus sekolah untuk dilatih melukis, mengukir, memahat dan membuat plakat. Hasan mengatakan di tempatnya ini telah lebih dari 10 orang yang bekerja dan masing-masing membuka usaha sendiri. Termasuk Ardi.

    Tak jauh berbeda dengan Ibrahim, Hasan juga salah seorang pengusaha plakat senior. Ia mulai menekuni karir seni dan melukis sejak tahun 1979 lalu. Kemudian mendirikan usaha di Jl. Pangeran Hidayat sekitar tahun 1989 lalu. Memperdalam ilmunya Hasan juga pernah belajar melukis di Malaysia selama tiga tahun.

    Bagi Hasan kehadiran pengrajin plakat sangat berarti bagi penduduk Jl. Pangeran Hidayat. Di samping menjadi lapangan kerja baru, juga mengurangi tindakan premanisme. “Dulu tingkat kriminal di daerah ini sangat tinggi,  disebabkan banyak pemuda yang menganggur,” ujar Hasan dengan hati lega.

    Untuk membuka usaha ini ternyata tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Cukup dengan menyediakan uang sebesar Rp 4 juta. “Modal dasar saya hanya Rp 4 juta, ini sudah termasuk sewa tempat,” demikian dikatakan Ardi. Yang termasuk agak sulit adalah mendapatkan bahan dasar, seperti plat kuningan dan fiber glasses. Bahan-bahan ini hanya ada di Jakarta. Sedangkan bahan pendukung lainnya banyak terdapat di luar kota.

    Sementara untuk produksi yang dihasilkan, rupa dan harganya beragam. Mulai dari yang murah hingga mahal tersedia. Untuk harga, penetapannya tergantung pada sejauh mana tingkat kesulitan pembuatan kerajinan ini. kadang mencapai jutaan rupiah. Misalnya pembuatan plakat dalam fiber kaca bening, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta. Pasar sepi bagi pebisnis ini sama sekali tidak menjadi kendala, karena masing-masing pengrajin telah memiliki order langganan tetap tiap tahun.

    Selain pemasaran dalam kota, usaha ini juga telah merambah secara nasional bahkan internasional. Reklame Handicraft misalnya, usaha milik Beretta Hasan ini telah mempunyai kerjasama yang baik dengan Singapura, dalam rangka pendistribusian produk. “Pernah kita membuat produksi hingga 500 unit cenderamata ukiran terbuat dari kau yang di eksport ke negara Singapura,” ujar Hasan bangga. ****
Baca selengkapnya

Tuesday, September 20, 2016

Pejuang Papua di Angkot Jakarta

Filep Karma

Filep Karma mendapat remisi dari Presiden Jokowi. Sempat menolak beberapa kali namun akhirnya menerima remisi tersebut. Meski sudah keluar dari penjara, Karma tetap berjuang untuk Papua.

Oleh Rizky Ramadhan


SEORANG LELAKI MENATAP KE DEPAN. Sesekali ia melihat kendaraan yang lalu lalang. Beberapa angkot saling mendahului . Cuaca sore itu tidak terlalu panas, namun suhu pengap dalam angkot cukup membuat gerah. Keringat menetes dari keningnya.
“Bisa jadi kita sekarang ada yang ngintai,” katanya seperti berhati-hati.

Ia Filep Jacob Samuel Karma, kerap dipanggil Filep Karma. Pria kelahiran 1959 ini memiliki perawakan besar. Rambut panjangnya digulung dan diikat kecil mirip model rambut gimbal dengan beberapa bagian  memutih. Jenggot dan kumis yang lebat membuatnya tampak sangar. Sesekali ia tersenyum.

Katanya, sejak masih di Papua Karma seringkali diintai karena berjuang memerdekakan tanah kelahirannya. Ia dipandang orang Papua sebagai pejuang yang siap memberikan apa saja untuk aksi damai agar negerinya—Papua—merdeka. Ia pernah dipukul, ditembak dan berkali-kali dipenjara serta diancam dibunuh.

Sore itu saya berkesempatan satu angkot dengannya. Karma berasal dari keluarga terpandang di Papua. Ayahnya Andreas Karma, mantan bupati di Jayapura dan Wamena. Pada 1979, Karma kuliah di Universitas Sebelas Maret, Solo, mengambil jurusan Ilmu Politik. Lulus pada 1987 dan bekerja sebagai pegawai negeri di Jayapura.

Pada 1997, Karma mendapat beasiswa kuliah selama satu tahun di Asian Institute of Management, Manila. Ia kembali ke Jakarta pada bulan Mei setelah study di Manila. Saat itu Karma melihat aksi protes mahasiswa Universitas Trisakti terhadap pemerintahan Presiden Soeharto. Dua hari ia melihat aksi protes itu. “Saat itu ibu kota negara sedang bergejolak.”

Karma melepas masa lajangnya dengan menikahi Ratu Karel Lina, perempuan berdarah Melayu-Jawa asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Usia keduanya terpaut satu tahun. Mereka dikarunia dua orang putri.

TIBA-TIBA angkot yang kami tumpangi berhenti di perempatan lampu merah. Tiiiiiiiiiiit...tit…tit…tit... klakson bersahut-sahutan. Kendaraan roda dua melaju pelan di sela-sela mobil.

“Oh ya, jadi bagaimana ceritanya waktu bapak di penjara?”

Karma diam, kemudian tersenyum.

Filep Karma tengah bercerita pengalamannya.
Awal mulanya Filep Karma dipenjara pada 1998 atas tuduhan makar karena memimpin aksi dan pidato. “Sebelumnya saya juga ikut dalam aksi mengibarkan bendera bintang kejora.” Lambang bintang kejora merupakan bendera rakyat Papua merdeka. Saat ikut mengibarkan bendera bintang kejora, militer Indonesia mengambil alih Biak. Mendatangkan bantuan dari Ambon dan menembaki para pengunjuk rasa dari empat sisi. Jumlah korban tewas tidak diketahui pasti namun ia perkirakan sekitar seratus orang. Karma lalu dihukum penjara selama enam setengah tahun. Karma bebas demi hukum pada 20 November 1999. Karma kembali bekerja sebagai Pegawai Negeri di Papua.

Menjelang akhir tahun 2004, Karma menyiapkan sebuah upacara peringatan deklarasi kemerdekaan Papua. Peringatan ini pertama kali dilakukan pada 1 Desember 1961. Ia kembali  berpidato soal kebangsaan orang Papua. Karma katakan, orang Papua tidak selalu kulit hitam dan rambut keriting, banyak orang di luar Papua yang juga peduli pada Papua.

“Sebaliknya, banyak juga orang asli Papua, kulit hitam, rambut keriting, makan lebih banyak namun hatinya lebih Indonesia,” ujarnya pada pidato tersebut.

Karma kembali ditangkap oleh polisi. Diadili dan dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Abepura. Ia dihukum melanggar pasal 106 dan 110 KUHP tentang makar—suatu perbuatan dengan maksud seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian dari wilayah negara. Karma dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Filep Karma kembali berusaha melakukan banding ke Pengadilan Tinggi hingga kasasi ke Mahkamah Agung. Kali ini usahanya gagal.


ANGKOT MENEPI. Seorang pria muda masuk dan duduk di kursi dekat pintu lalu menyanyi. Hanya satu lagu, pria itu menyodorkan tangan. “Saya pikir dia mau bilang kalau dia baru keluar dari penjara,” ujar Karma sambil tertawa.

Karma teringat, ketika mengunjungi salah satu penjara ada seorang pemuda menghampirinya. Pemuda itu bilang kalau ia baru keluar dari penjara dan ingin meminta sedikit uang. “Saya juga baru keluar dari penjara,” timpalnya sambil memperilihatkan surat penahanan pada pemuda tersebut. Pemuda itu pun pergi.

Cerita mengenai kehidupannya di penjara tertuang dalam sebuah buku berjudul Seakan Kitorang Setengah Binatang. Selama dipenjara Karma diperlakukan secara tak manusiawi. Ia mengalami sakit dan sulit untuk berobat. Pernah Karma mengalami sakit di saluran kencing dan hendak berobat.

Karma harus bernegosiasi dan menunggu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan izin berobat ke Jakarta. Di sampaing itu negara tidak memberi bantuan biaya berobat padanya. Karma di bantu oleh aktivis, Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia serta  organisasi internasional yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia.

Ada juga pejuang di Papua yang secara suka rela membantu biaya pengobatannya. Parahnya lagi, petugas Lapas dan Polisi yang mengantarkan Karma berobat di Jakarta harus ditanggung biayanya.

Kurang lebih 11 tahun dipenjara, Karma di bebaskan pada November 2015 setelah mendapat remisi dari Presiden Jokowi. Mestinya ia baru bebas 2019 mendatang. Karma sempat menerima remisi beberapa kali. Namun menolaknya. Menurutnya, dengan menerima remisi tersebut berarti secara tidak langsung mengakui kesalahan sendiri. “Kalau saya menerima remisi itu berarti sama saja saya mengkriminalkan diri.” Pengacaranya lah yang memaksa dan membantunya untuk keluar dari penjara.

Sebenarnya Karma berencana untuk tinggal lebih lama di penjara. Alasannya untuk mendesak polisi menuntaskan kasus yang masih terjadi di Papua. Selain itu menurut Karma, tinggal di Lembaga Pemasyarakatan lebih aman. “Jika terjadi apa-apa sama saya, toh polisi harus bertanggung jawab. Mau tidak mau polisi harus menjaga saya.” Baginya, penjara bagai rumah sendiri.
   
Meski sudah keluar dari penajara, Karma merasa masih dalam penjara yang lebih luas dengan nama Indonesia. Ia menganggap, apa yang dialami Indonesia ketika dijajah Belanda, seperti itulah yang dirasakan oleh rakyat Papua sekarang.

“Tentu saya akan tetap berjuang, karena Papua belum merdeka,” tegasnya.


ANGKOT BERHENTI LAGI. Kali ini seorang pria tua yang masuk. Karma terus bercerita, sesekali mengusap jenggot dan membetulkan letak topi dengan lambang bendera Timor Leste. Karma  menggunakan seragam PNS cokelat dengan lambang bintang kejora di dadanya serta sepatu berwarna putih.

“Kalau setelan baju ini, karena saya memang pegawai negeri. Sedangkan bendera bintang kejora menandakan identitas seorang Papua,” ujar Karma.

“Kenapa topi lambangnya Timor Leste?”

“Ya, biar pihak polisi semakin kesal,” sahut Karma dengan tawa. Karma terkesan dengan perjuangan bangsa Timor Leste yang berhasil memerdekakan diri dari Indonesia.

Untuk terkahir kalinya angkot berhenti. Kami berpisah di perempatan jalan Letjend S. Parman dan Palmerah. Saya mengakhiri bincang-bincang sore itu dengan melihat senyum Karma kembali.#
Baca selengkapnya

Thursday, September 8, 2016

Pohon dan Dia

Pohon di depan Planetarium TIM


Buk! Buk! Buk!

Suara dari beberapa dahan yang jatuh ke tanah. Seorang pria paruh baya, Adi namanya, memotong dahan pohon yang kelihatannya sudah tua. Di bawahnya ada dua orang lain. Seorang berseragam sekuriti sambil membawa tambang kuning berukuran sedang, seorang lagi dengan seragam oranye yang hanya memandang dari bawah sembari menghisap sebatang rokok.

Adi yang sejak tadi berdiri diatas tangga lipat berpindah ke dahan yang sedikit lebih besar. Sejenak ia merenggangkan kaki. Duduk, berdiri, duduk, berdiri lagi. Salah satu dahan yang terdekat coba diraihnya.

"Yang itu, itu tuh," tunjuk sekuriti ke salah satu dahan.
"Yang ini?"
"Iya."

Prtaaaaang...!!! 

Suaranya lebih besar dibanding yang pertama. Dahan dengan diameter seperti botol Aqua ukuran 1500 ml mengenai tugu nama setinggi satu meter. Tugu ini terbuat dari semen dilapisi keramik hitam dan seng dibagian atasnya. Pada bagian depan bertuliskan Planetarium Jakarta.

Siang itu, terik matahari cukup panas. Angin sesekali berhembus menggoyang ranting kecil pohon tempat Adi berada. Mobil dan motor lalu lalang melintasi jalan di depan planetarium. Pria dengan setelan jas lengkap, beberapa keluarga, gerombolan anak sekolahan, dan mahasiswa juga melintas. Gedung Planetarium yang berwarna biru dengan atap berbentuk setengah bola warna putih terlihat sepi pengunjung. “Karena lagi ada perbaikan mas,” jawab sekuritinya.


Suara gaduh datang dari bangunan baru jauh di belakang gedung planetarium berbaur dengan suara mesin kendaraan. Kicau burung gereja di pepohonan samar terdengar. Seekor kucing hitam tengah berjemur di dekat pagar planetarium.  Di dekat gedung planetarium ada bangunan kecil ukuran tiga kali tiga meter dengan gaya keraton, atapnya dari asbes merah bata sedang dindingnya dari tembok bercat putih dan kayu cokelat. Di seberang sekitar lima puluh meter berjejer motor segala merek diparkiran. Di dekat parkiran asap putih mengepul dari salah satu deretan warung makan. Aromanya semerbak terbawa angin. 

Bercampur dengan bau busuk dari tong sampah.

Adi saat itu gunakan kemeja abu-abu lengan pendek, celana selutut, topi cokelat dan sepatu hitam kusam. Cahaya matahari memantul dari cincin akik di jari manis tangan kirinya. Sekuriti yang dibawah melempar tali. Adi kemudian mengikat ke batang pohon yang besar. Setelah cukup yakin dengan ikatannya, Adi melemparkan tali satunya lagi ke bawah. Tali dipegang sekuriti sambil bersiap menarik, sementara di atas Adi memilah mana bagian yang harus dipotong.
 

“Yang bawah aja. Bawahnya lagi,” panggil sekuriti di bawah.
 

Adi pun mengikuti saran yang dibawah. Secara perlahan ia memotong batang besar itu dengan parang. Ia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memotongnya. Sembari Adi memotong, si sekuriti menarik batang dengan tali agar tidak kena gedung.

Prtaaaaang...!!! 


Suara yang lebih besar dibanding yang sebelumnya.
Merasa pekerjaannya tinggal sedikit, ia pun hendak istirahat dibawah. Kaki kanannya perlahan mencari tapakan di tangga. Saat kaki kirinya mulai memijak, tangga lipat itu tiba-tiba saja jatuh. Sontak Adi yang masih menggantung di pohon terkejut. Bagian tangannnya masih menggantung sementara bagian kaki bergerak kesana kemari menendang angin. Cemas dan panas membuat peluh kian membasahi bajunya.
Melihat temannya sedang dalam bahaya, dua orang di bawah sontak berlari mendekat dan mencoba mendirikan tangga yang terjatuh. Setelah tangga terpasang, Adi perlahan turun dengan menyisakan beberapa pekerjaan yang masih tanggung.
 

Pohon tua itu kini gundul, hanya tersisa tiga dahan yang masih tersisa. Angin kembali berhembus menerpa dedaunannya.
Baca selengkapnya