Thursday, September 8, 2016

Pohon dan Dia

Pohon di depan Planetarium TIM


Buk! Buk! Buk!

Suara dari beberapa dahan yang jatuh ke tanah. Seorang pria paruh baya, Adi namanya, memotong dahan pohon yang kelihatannya sudah tua. Di bawahnya ada dua orang lain. Seorang berseragam sekuriti sambil membawa tambang kuning berukuran sedang, seorang lagi dengan seragam oranye yang hanya memandang dari bawah sembari menghisap sebatang rokok.

Adi yang sejak tadi berdiri diatas tangga lipat berpindah ke dahan yang sedikit lebih besar. Sejenak ia merenggangkan kaki. Duduk, berdiri, duduk, berdiri lagi. Salah satu dahan yang terdekat coba diraihnya.

"Yang itu, itu tuh," tunjuk sekuriti ke salah satu dahan.
"Yang ini?"
"Iya."

Prtaaaaang...!!! 

Suaranya lebih besar dibanding yang pertama. Dahan dengan diameter seperti botol Aqua ukuran 1500 ml mengenai tugu nama setinggi satu meter. Tugu ini terbuat dari semen dilapisi keramik hitam dan seng dibagian atasnya. Pada bagian depan bertuliskan Planetarium Jakarta.

Siang itu, terik matahari cukup panas. Angin sesekali berhembus menggoyang ranting kecil pohon tempat Adi berada. Mobil dan motor lalu lalang melintasi jalan di depan planetarium. Pria dengan setelan jas lengkap, beberapa keluarga, gerombolan anak sekolahan, dan mahasiswa juga melintas. Gedung Planetarium yang berwarna biru dengan atap berbentuk setengah bola warna putih terlihat sepi pengunjung. “Karena lagi ada perbaikan mas,” jawab sekuritinya.


Suara gaduh datang dari bangunan baru jauh di belakang gedung planetarium berbaur dengan suara mesin kendaraan. Kicau burung gereja di pepohonan samar terdengar. Seekor kucing hitam tengah berjemur di dekat pagar planetarium.  Di dekat gedung planetarium ada bangunan kecil ukuran tiga kali tiga meter dengan gaya keraton, atapnya dari asbes merah bata sedang dindingnya dari tembok bercat putih dan kayu cokelat. Di seberang sekitar lima puluh meter berjejer motor segala merek diparkiran. Di dekat parkiran asap putih mengepul dari salah satu deretan warung makan. Aromanya semerbak terbawa angin. 

Bercampur dengan bau busuk dari tong sampah.

Adi saat itu gunakan kemeja abu-abu lengan pendek, celana selutut, topi cokelat dan sepatu hitam kusam. Cahaya matahari memantul dari cincin akik di jari manis tangan kirinya. Sekuriti yang dibawah melempar tali. Adi kemudian mengikat ke batang pohon yang besar. Setelah cukup yakin dengan ikatannya, Adi melemparkan tali satunya lagi ke bawah. Tali dipegang sekuriti sambil bersiap menarik, sementara di atas Adi memilah mana bagian yang harus dipotong.
 

“Yang bawah aja. Bawahnya lagi,” panggil sekuriti di bawah.
 

Adi pun mengikuti saran yang dibawah. Secara perlahan ia memotong batang besar itu dengan parang. Ia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memotongnya. Sembari Adi memotong, si sekuriti menarik batang dengan tali agar tidak kena gedung.

Prtaaaaang...!!! 


Suara yang lebih besar dibanding yang sebelumnya.
Merasa pekerjaannya tinggal sedikit, ia pun hendak istirahat dibawah. Kaki kanannya perlahan mencari tapakan di tangga. Saat kaki kirinya mulai memijak, tangga lipat itu tiba-tiba saja jatuh. Sontak Adi yang masih menggantung di pohon terkejut. Bagian tangannnya masih menggantung sementara bagian kaki bergerak kesana kemari menendang angin. Cemas dan panas membuat peluh kian membasahi bajunya.
Melihat temannya sedang dalam bahaya, dua orang di bawah sontak berlari mendekat dan mencoba mendirikan tangga yang terjatuh. Setelah tangga terpasang, Adi perlahan turun dengan menyisakan beberapa pekerjaan yang masih tanggung.
 

Pohon tua itu kini gundul, hanya tersisa tiga dahan yang masih tersisa. Angin kembali berhembus menerpa dedaunannya.

Bagikan

Jangan lewatkan

Pohon dan Dia
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.