Monday, December 19, 2016

Cerita Akhir Seorang Penyair


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : Lawan!

Syair itu penggalan puisi Wiji Thukul. Ia buat pada 1986. Judulnya Peringatan. Selalu didengungkan saat orasi hingga kini.

Wiji Thukul lahir dengan nama Wiji Widodo, di Solo 26 Agustus 1963. Ia lahir dari keluarga penarik becak. Keluarganya seorang Katolik. Sejak kecil setiap ahad pagi ia selalu mengajak adiknya sembahyang di Kapel Sorogenen. Saat itu ia aktif menjadi anggota kos kapel. Ia sering membawa novel serial silat karangan Asmaraman Sukowati, Koo Ping Hoo. Selain buku itu, Thukul kerap membawa buku yang disewa dari perpustakaan kampung.

Selain minat baca yang tinggi, Thukul juga sudah mandiri sejak kecil. Sejak SMP, ia sudah kerja macam-macam. Mulai dari loper koran hingga jadi calo tiket bioskop.

Selulus SMP, Thukul masuk Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia atau SMKI di Solo, Jurusan Tari. Selama bersekolah di SMKI, Thukul masih aktif di kapel. Barulah ketika anak-anak kapel akan membuat teater tentang kelahiran kristus, Thukul diperkenalkan dengan Cempe Lawu Warta.

Thukul kemudian gabung dengan Teater Jagat—kependekan dari Teater Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak—dibawah asuhan Cempe Lawu Warta. Ia bergabung pada 1981, saat itu ia masih kelas II di SMKI.

Kondisi ekonomi keluarga yang susah, Thukul memutuskan berhenti sekolah. Ia menyuruh adiknya tetap melanjutkan sekolah sedangkan ia kerja di sebuah toko mebel dekat Keraton Solo sebagi tukang pelitur. Ia malah menghabiskan banyak waktunya di Jagat.

Nama semulanya Widodo diganti Lawu menjadi Thukul. Wiji Thukul berarti biji tumbuh. Lawu sepertinya mengikuti tradisi di Bengkel Teater buatan Rendra yang kerap memberi nama paraban kepada anggotanya.

Awalnya Lawu merasa kesulitan saat mengajari Thukul. Lelaki krempeng itu tak bisa menyayi, ditambah dengan sulitnya ia menyebut “r” pada latihan vokal, ia juga tidak peka di bidang musik. Selain musik, Thukul tidak bisa bermain teater ataupun menari, meskipun ia pernah mengambil jurusan tari sewaktu di SMKI. Namun akhirnya Lawu menemukan bakat tukul sebagai pujangga. Ia suka membaca dan menulis.

Disinilah Thukul digembleng hingga ia menemukan jati dirinya.

Mulanya Thukul buat puisi tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Sampai akhirnya puisi Thukul kian lugas dan kritik sosial kian kental. Thukul menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Puisi Pelo pada 1985.

Selain mengirim karyanya ke media massa, ia biasa mengamen keliling Jawa. Nama Thukul kian berkibar. Hingga ia pun berselisih paham dengan Cempu Lawu.

Sejak itu thukul tak aktif lagi di Jagat. Ia kemudian bersama Halim yang juga aktivis kebudayaan membuat Sanggar Suka Banjir sesuai dengan tempat tinggal yang mereka jadikan sanggar yang acapkali banjir. Thukul mengajak istrinya Siti Diyah Surijah alias Sipon tinggal di sini.

Pada suatu waktu, Thukul, Semsar dan Mulyono berdiskusi di tepi pantai Brumbun, Tulungagung, Jawa Timur. Topiknya penculikan dan penganiayaan hingga tewas Marsinah—seorang buruh yang melakukan seni instalasi patung. Mereka sepakat membentuk Jaringan Kesenian Rakyat atau Jaker. Tujuannya menaungi sesama seniman untuk melawan tindakan represif pemerintah.

Beberapa anggota inti Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) yang kemudian hari jadi Partai Rakyat Demokratik bergabung. Jaker pun terpecah karena perbedaan prinsip. Anggota inti seperti Semsar, Mulyono dan Hilmar keluar dari Jaker. Thukul menjadikan Jaker sebagai sayap PRD.

Sebelumnya, Thukul pernah ikut aksi demonstrasi bersama ribuan buruh dan mahasiswa lain di sepanjang jalan menuju PT Sri Rejeki Isman Texille (Sritex). Kerusuhan akhirnya pecah. Aparat membabi-buta membubarkan demonstran. Saat itu Thukul ditangkap dan dihajar habis-habisan karena dianggap sebagai dalang demonstrasi. Dipukul, tendang bahkan kepalanya dibenturkan ke kap mobil jip, menyebabkan mata kanannya rusak.

PADA 22 Juli 1996 Thukul membacakan puisi pada deklarasi berdirinya PRD di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta. Ditambah kerusuhan 27 Juli 1996 pengambil alihan kantor pusat PDIP.

Sejak itulah pelarian Wiji Thukul dimulai. Hampir separuh hidupnya ia habiskan untuk sembunyi dan berlari dari kejaran pemerintah. Dibulan yang sama juga Tim Mawar dibentuk oleh Komando Pasukan Khusus atau Kopassus untuk menculik aktivis.

Thukul nomaden. Ia selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain, satu daerah ke daerah lain. Dari Solo mula-mula ia ke Wonogiri, lalu ke Yogyakarta, Magelang dan kemudian Salatiga. Selama perjalanan ini ia menulis puisi Aku Diburu Pemerintahku Sendiri. Setelah itu pindah ke Jakarta untuk menemui Yosep Stanley Adi Prasetyo dan Arif Budiman, disini ia juga menulis puisi Buat L.Ch & A.B.

Thukul semakin sering berpindah. Pontianak, Solo, Jakarta, Parangtritis, Cikokol, Bengkulu, dan beberapa tempat lainnya sejak Juli 1996 hingga Mei 1998.

Thukul diberi kode Kulkas. Ibarat benda yang dipindah tangan oleh beberapa aktivis prodemokrasi, PRD dan seniman.

Selama persembunyiannya Thukul kerap hubungi Sipon. Ia tanya tentang kedua anaknya Wani dan Fajar. Selain itu Wahyu adik kandung Thukul, Lawu, Jaap Erkeleens dan beberapa Aktivis Prodemokrasi.

Bom meledak di unit 510 Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat pada 18 Januari 1998. Kata Prabowo Subianto, aktivis itu belum ahli merakit bom. “Salah sentuh jadinya meledak.” Peristiwa itu menjadi dalih pemerintah menyapu bersih aktivis.

Gerak Thukul tak terlihat lagi. Ia raib. Tak ada kabar sama sekali.

Keluarganya menanti. Hingga kini, Wiji Thukul yang Tuna Wicara itu tak lagi tersiar rimbanya. Masih hidup, atau mati.

BUKU ini mengisahkan perjalanan Wiji Thukul dari kecil hingga akhirnya ia hilang. Jejak persembunyian Thukul dan juga latar kehidupan dia sebagai bingkai cerita.

Pembaca akan dibawa menyelami kehidupan Wiji Thukul. Bagaimana perasaan was-was, ketakutan dan paranoid yang muncul akibat tindakan represif pemerintah saat itu.

Alur cerita bolak-balik membuat pembaca semakin merasakan intensnya gangguan dan serangan mental yang dialami Wiji Thukul.

Penulis dalam buku ini langsung terjun ke lapangan, ke gang-gang sempit dan tempat terpencil yang memiliki kaitan langsung dengan Wiji Thukul sehingga kita sebagai pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas tentang dimana Thukul saat itu, bagaimana tempat persembunyiannya.

Gaya penulisan naratif membuat buku Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang semakin mudah untuk dibaca. Secara keseluruhan buku ini cukup bagus untuk dibaca kalangan pelajar, mahasiswa maupun umum.

Sebuah buku yang menjadi jilid perdana dari seri prahara-prahara orde baru yang diangkat dari liputan khusus Tempo.*


Judul buku : Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang
Tim penyunting : Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG
Tim Produksi : Djunaedi, Eko Punto Pambudi, Aji Yuliarto, Rizal Zulfadli, Kendra H, Agus Dermawan, Tri Watno Widodo
Tahun terbit : 2013 (cetakan ketiga, Februari 2016)
Tebal halaman : 160 hlm; 16 cm x 23 cm

Bagikan

Jangan lewatkan

Cerita Akhir Seorang Penyair
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.