Showing posts with label Bedah Buku. Show all posts
Showing posts with label Bedah Buku. Show all posts

Tuesday, March 14, 2017

Rosidi, Korban Salah Tangkap

 
Rosidi dituduh terlibat PKI. Menjalani setengah hidupnya dari penjara ke penjara. Selalu menjawab bisa jika ada tawaran pekerjaan.

“Kamu gantikan pamanmu. Naik ke mobil!” perintah seorang tentara pada Rosidi, setelah menyodorkan kartu Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sabupri). Rosidi biasa pakai kartu Sabupri untuk mengambil jatah beras, daging sapi atau sekedar berpergian jika tak ada ongkos. Kali ini kartu itu tak bisa menolongnya lagi.

Rosidi dipenjara selama 13 tahun sejak 1965 tanpa diadili. Ia tak tau apa salahnya.

Ia hanya pengagum Soekarno yang dipanggilnya Bapak. Sempat tak bekerja saat tahu Bapak sudah meninggal. Saat pemilu, ia coblos yang ada kepala Banteng. Baginya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan adalah penerus partai Bung Karno.

Rosidi mengira hanya ditahan beberapa hari. Jadi dia minta selembar sarung pada Yayah, anak dari istri pertamanya. Kebetulan saat itu Rosidi mengunjungi pamannya untuk perkenalkan istri baru Rosidi, Oneh.

Setengah perjalanan hidup Rosidi dilalu dari penjara ke penjara.

Penjara Bancey, Cianjur, tempat pertama ia ditahan. Hanya enam hari, ia dipindahkan ke Panembong.

Panembong adalah tempat Tahanan Politik atau Tapol 65 disekap tanpa pernah diadili. Berbagai kerja paksa ia jalani. Pekerjaan itu ditentukan penguasa kamp. Kerja tanpa upah. Hari-hari awal Rosidi dan para Tapol lainnya dijaga sangat ketat.

Saat mandi ke sungai ditemani oleh tentara yang membawa senjata. Lepas mandi, mereka hanya duduk diam, menunggu jatah makan nasi Beunyer—nasi yang diolah dari remah-remah beras. Kadang bercampur kerikil-kerikil kecil. Tak merasakan kenyang.

Oneh ikut tinggal di Panembong. Tiga belas tahun ia jalani dengan sulit, hanya Oneh yang membuatnya terus bertahan. Oneh hidup menderita bersama Rosidi selama setengah abad. Ia yang menjaga dan membesarkan lima anak mereka.

Rosidi sosok pekerja keras dan tak mau berdiam diri. Jika ada tawaran pekerjaan dari komandan kamp, selalu menjawab bisa. Persoalan bisa tidaknya ia kesampingkan asal bisa keluar penjara dan bekerja.

Bahkan, ia tekuni pekerjaan tak resmi. Sesuai keinginan komandan penjara : menguras kamar mandi tentara, membersihkan rumput di Taman Makam Pahlawan atau menguras kolam juga menangkap ikan. Seharian mereka bekerja lalu diantar ke Panembong. Jangankan diberi upah, ikannya pun tak mereka dapatkan.

Untuk menafkahi istri dan anaknya, Rosidi ngobor—mencari kodok—pada malam hari untuk dijual kepada Koh Tek. Koh Tek membayar tunai harga sebanyak Rp 20 tiap kodok. Sebelum pergi ia harus izin pada Komandan Kamp. Syaratnya upah dibagi dua.

Ngobor pekerjaan yang disukai Rosidi. Ia langsung dapat uang tunai untuk istri dan anaknya. Upah lain yang ia dapatkan dari gali pasir. Setengah meter kubik pasir untuk keperluan pembangunan jalan di Cihea. Jika masih ada tenaga ia gali pasir untuk dijual ke juragan sekitar daerah tersebut.

Pekerjaan paling berat yang dirasakan Rosidi saat jadi pemecah batu untuk pembangunan jalan Pagelaran ke Tanggeung. Dua tahun bekerja dengan imbalan dua kali makan sehari. Tak ada untuk beli beras.

Tak terlupakan Rosidi kejadian di Hutan Cilutung. Bersama temannya bekerja sebagai penebang pohon Rasamala. Hutan ini terletak di perbatasan Cianjur dan Sukabumi. Rasamala biasa dibuat rumah. Sore hari, ketika Rasamala besar berhasil mereka robohkan, terdengar suara teriakan. Mereka mencari asal suara. Seorang Tapol tergeletak bersimbah darah. Kepalanya retak dihantam Rasamala.

Oneh bekerja paling keras untuk menghidupi kelima anaknya saat Rosidi dipindahkan ke Kebon Waru. Ia tak bisa lagi menafkahi istri dan anaknya. Sesekali Oneh membezuk Rosidi—Arjuna dari Cikawung.

Tahun 1978, tekanan Perserikatan Bangsa-Bangsa terutama dari Amerika Serikat dan Inggris, meminta Soeharto mempercepat penyelesaian persoalan Tapol 1965. Sekitar 18 ribu Tapol termasuk sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer dibebaskan. Situasi politik nasional juga berubah drastis.

Melalui surat nomor Kep-29/KAMDA/JB/VII/1978, Rosidi yang ditahan dan tanpa diadili itu pun bebas.

Ia laminating surat bebas sebagai sejarah dalam hidup Rosidi. Tetapi Oneh lebih dahulu meninggalkan hidup Rosidi untuk selamanya pada Maret 2016. Selama 70 tahun wanita itu mengabdikan seluruh hidup kepada suami dan anak-anaknya.

Usai bebas, Rosidi bekerja di lahan miliknya di Sarongge. Ia dibantu anak-anaknya yang sudah mulai dewasa. Cerita ini berlanjut sampai beberapa anak Rosidi menikah.

Rosidi telah berdamai dengan masa lalu. Ia memaafkan tentara yang menangkapnya, komandan kamp yang menyuruh kerja paksa dan ikhlas terpisah dari keluarga.

CERITA HIDUP ROSIDI DITULIS TOSCA SANTOSO. Tosca dengan tekun mengumpulkan kisah hidup Rosidi. Ia menguliti sedikit demi sedikit dan mengumpulkan cerita utuh—Rosidi dipenjara selama 13 tahun tanpa diadili.

Buku ini membuka wawasan tentang kekejaman pemerintah pada peristiwa 1965. Rosidi mewakili mereka yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia. Ia ditangkap dan dipenjara. Disuruh kerja paksa, sampai bebas pun mendapat intimidasi dari masyarakat sekitar.

Tosca menulis dengan gaya narasi dan bahasa yang mudah dipahami. Ia memainkan banyak alur sehingga tidak monoton. Ia memulai dengan napak tilas penjara dan tempat kerja Rosidi. Jika ingin banyak mengetahui sejarah 1965, maka tidak salah membaca buku ini. Selamat membaca.*Wilingga.

Judul buku : Cerita Hidup Rosidi
Penulis : Tosca Santoso
Penerbit : Kaliandra
Tahun Terbit : 2016
Ukuran : 260 halaman
Baca selengkapnya

Monday, December 19, 2016

Cerita Akhir Seorang Penyair


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : Lawan!

Syair itu penggalan puisi Wiji Thukul. Ia buat pada 1986. Judulnya Peringatan. Selalu didengungkan saat orasi hingga kini.

Wiji Thukul lahir dengan nama Wiji Widodo, di Solo 26 Agustus 1963. Ia lahir dari keluarga penarik becak. Keluarganya seorang Katolik. Sejak kecil setiap ahad pagi ia selalu mengajak adiknya sembahyang di Kapel Sorogenen. Saat itu ia aktif menjadi anggota kos kapel. Ia sering membawa novel serial silat karangan Asmaraman Sukowati, Koo Ping Hoo. Selain buku itu, Thukul kerap membawa buku yang disewa dari perpustakaan kampung.

Selain minat baca yang tinggi, Thukul juga sudah mandiri sejak kecil. Sejak SMP, ia sudah kerja macam-macam. Mulai dari loper koran hingga jadi calo tiket bioskop.

Selulus SMP, Thukul masuk Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia atau SMKI di Solo, Jurusan Tari. Selama bersekolah di SMKI, Thukul masih aktif di kapel. Barulah ketika anak-anak kapel akan membuat teater tentang kelahiran kristus, Thukul diperkenalkan dengan Cempe Lawu Warta.

Thukul kemudian gabung dengan Teater Jagat—kependekan dari Teater Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak—dibawah asuhan Cempe Lawu Warta. Ia bergabung pada 1981, saat itu ia masih kelas II di SMKI.

Kondisi ekonomi keluarga yang susah, Thukul memutuskan berhenti sekolah. Ia menyuruh adiknya tetap melanjutkan sekolah sedangkan ia kerja di sebuah toko mebel dekat Keraton Solo sebagi tukang pelitur. Ia malah menghabiskan banyak waktunya di Jagat.

Nama semulanya Widodo diganti Lawu menjadi Thukul. Wiji Thukul berarti biji tumbuh. Lawu sepertinya mengikuti tradisi di Bengkel Teater buatan Rendra yang kerap memberi nama paraban kepada anggotanya.

Awalnya Lawu merasa kesulitan saat mengajari Thukul. Lelaki krempeng itu tak bisa menyayi, ditambah dengan sulitnya ia menyebut “r” pada latihan vokal, ia juga tidak peka di bidang musik. Selain musik, Thukul tidak bisa bermain teater ataupun menari, meskipun ia pernah mengambil jurusan tari sewaktu di SMKI. Namun akhirnya Lawu menemukan bakat tukul sebagai pujangga. Ia suka membaca dan menulis.

Disinilah Thukul digembleng hingga ia menemukan jati dirinya.

Mulanya Thukul buat puisi tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Sampai akhirnya puisi Thukul kian lugas dan kritik sosial kian kental. Thukul menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Puisi Pelo pada 1985.

Selain mengirim karyanya ke media massa, ia biasa mengamen keliling Jawa. Nama Thukul kian berkibar. Hingga ia pun berselisih paham dengan Cempu Lawu.

Sejak itu thukul tak aktif lagi di Jagat. Ia kemudian bersama Halim yang juga aktivis kebudayaan membuat Sanggar Suka Banjir sesuai dengan tempat tinggal yang mereka jadikan sanggar yang acapkali banjir. Thukul mengajak istrinya Siti Diyah Surijah alias Sipon tinggal di sini.

Pada suatu waktu, Thukul, Semsar dan Mulyono berdiskusi di tepi pantai Brumbun, Tulungagung, Jawa Timur. Topiknya penculikan dan penganiayaan hingga tewas Marsinah—seorang buruh yang melakukan seni instalasi patung. Mereka sepakat membentuk Jaringan Kesenian Rakyat atau Jaker. Tujuannya menaungi sesama seniman untuk melawan tindakan represif pemerintah.

Beberapa anggota inti Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) yang kemudian hari jadi Partai Rakyat Demokratik bergabung. Jaker pun terpecah karena perbedaan prinsip. Anggota inti seperti Semsar, Mulyono dan Hilmar keluar dari Jaker. Thukul menjadikan Jaker sebagai sayap PRD.

Sebelumnya, Thukul pernah ikut aksi demonstrasi bersama ribuan buruh dan mahasiswa lain di sepanjang jalan menuju PT Sri Rejeki Isman Texille (Sritex). Kerusuhan akhirnya pecah. Aparat membabi-buta membubarkan demonstran. Saat itu Thukul ditangkap dan dihajar habis-habisan karena dianggap sebagai dalang demonstrasi. Dipukul, tendang bahkan kepalanya dibenturkan ke kap mobil jip, menyebabkan mata kanannya rusak.

PADA 22 Juli 1996 Thukul membacakan puisi pada deklarasi berdirinya PRD di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta. Ditambah kerusuhan 27 Juli 1996 pengambil alihan kantor pusat PDIP.

Sejak itulah pelarian Wiji Thukul dimulai. Hampir separuh hidupnya ia habiskan untuk sembunyi dan berlari dari kejaran pemerintah. Dibulan yang sama juga Tim Mawar dibentuk oleh Komando Pasukan Khusus atau Kopassus untuk menculik aktivis.

Thukul nomaden. Ia selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain, satu daerah ke daerah lain. Dari Solo mula-mula ia ke Wonogiri, lalu ke Yogyakarta, Magelang dan kemudian Salatiga. Selama perjalanan ini ia menulis puisi Aku Diburu Pemerintahku Sendiri. Setelah itu pindah ke Jakarta untuk menemui Yosep Stanley Adi Prasetyo dan Arif Budiman, disini ia juga menulis puisi Buat L.Ch & A.B.

Thukul semakin sering berpindah. Pontianak, Solo, Jakarta, Parangtritis, Cikokol, Bengkulu, dan beberapa tempat lainnya sejak Juli 1996 hingga Mei 1998.

Thukul diberi kode Kulkas. Ibarat benda yang dipindah tangan oleh beberapa aktivis prodemokrasi, PRD dan seniman.

Selama persembunyiannya Thukul kerap hubungi Sipon. Ia tanya tentang kedua anaknya Wani dan Fajar. Selain itu Wahyu adik kandung Thukul, Lawu, Jaap Erkeleens dan beberapa Aktivis Prodemokrasi.

Bom meledak di unit 510 Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat pada 18 Januari 1998. Kata Prabowo Subianto, aktivis itu belum ahli merakit bom. “Salah sentuh jadinya meledak.” Peristiwa itu menjadi dalih pemerintah menyapu bersih aktivis.

Gerak Thukul tak terlihat lagi. Ia raib. Tak ada kabar sama sekali.

Keluarganya menanti. Hingga kini, Wiji Thukul yang Tuna Wicara itu tak lagi tersiar rimbanya. Masih hidup, atau mati.

BUKU ini mengisahkan perjalanan Wiji Thukul dari kecil hingga akhirnya ia hilang. Jejak persembunyian Thukul dan juga latar kehidupan dia sebagai bingkai cerita.

Pembaca akan dibawa menyelami kehidupan Wiji Thukul. Bagaimana perasaan was-was, ketakutan dan paranoid yang muncul akibat tindakan represif pemerintah saat itu.

Alur cerita bolak-balik membuat pembaca semakin merasakan intensnya gangguan dan serangan mental yang dialami Wiji Thukul.

Penulis dalam buku ini langsung terjun ke lapangan, ke gang-gang sempit dan tempat terpencil yang memiliki kaitan langsung dengan Wiji Thukul sehingga kita sebagai pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas tentang dimana Thukul saat itu, bagaimana tempat persembunyiannya.

Gaya penulisan naratif membuat buku Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang semakin mudah untuk dibaca. Secara keseluruhan buku ini cukup bagus untuk dibaca kalangan pelajar, mahasiswa maupun umum.

Sebuah buku yang menjadi jilid perdana dari seri prahara-prahara orde baru yang diangkat dari liputan khusus Tempo.*


Judul buku : Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang
Tim penyunting : Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG
Tim Produksi : Djunaedi, Eko Punto Pambudi, Aji Yuliarto, Rizal Zulfadli, Kendra H, Agus Dermawan, Tri Watno Widodo
Tahun terbit : 2013 (cetakan ketiga, Februari 2016)
Tebal halaman : 160 hlm; 16 cm x 23 cm
Baca selengkapnya

Saturday, September 24, 2016

Ladu, Alam Kemanusiaan dan Romantisme

Sampul buku ladu

Judul        : Ladu
Penulis     : Tosca Santoso
Tebal        : v + 322 halaman
Terbit       : 2016
Penerbit    : Kaliandra


SEBUAH novel berjudul Ladu telah dilaunching di sebuah cafe jalan Rajawali, Pekanbaru, akhir Mei lalu. Green Radio—media informasi yang fokus mengabarkan tentang lingkungan—sebagai penanggungjawab peluncuran novel tersebut. Novel ini juga telah dilaunching dibeberapa tempat di Jakarta hingga Bogor.

Ladu dikenal dalam bahasa Jawa. Maknanya, endapan tanah merah. Seperti partikel Tuhan, ia pembentuk zat yang hidup dan tak hidup. Puitisnya, Ladu adalah awal dan akhir sekaligus.

Penulisnya Tosca Santoso. Ini adalah novel keduanya setelah Sarongge yang juga pernah diluncurkan di Pekanbaru. Keduanya bercerita tentang alam, kehidupan dan romantisme. Namun, Ladu mengambil background cerita dari perjalanan mendaki gunung.

Yanis dan Sunarti merupakan sepasang manusia yang menjadi tokoh dalam novel kali ini. Perjumpaan awal mereka pertama kali terjadi di Kaliadem, sebuah perkampungan dekat lereng gunung merapi.
Suasana kedatangan mereka untuk yang kedua kalinya sudah jauh berbeda. Kerucut merapi tidak lagi berbentuk sempurna akibat muntahan cairan magma yang baru saja reda dan menenggelamkan pemukiman. Kini, persis tempat mereka berdiri adalah sebuah perkampungan yang dulunya menjadi tempat persinggahan.

Dari sini mereka memulai petualangan dari gunung ke gunung. Dari Kaliadem, Liangan, Pelataran Dieng, Gede Pangrango, Kelud, Rinjani, Tambora hingga Lore Lindu. Mereka bermalam disetiap gunung yang disinggahi. Kopi asli yang diperoleh dari penduduk setempat menemani malam mereka.
Dari tiap lereng gunung yang mereka datangi mengalir banyak cerita. Cara masyarakat bertahan dan bergantung hidup dikaki gunung serta memahami tanda-tanda alam, menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi kedua insan ini.

Masyarakat tidak hanya semata mengambil hasil alam, tetapi juga menjaganya dan berdoa selalu agar
diberi keberuntungan dari sertiap peristiwa yang terjadi.

Segala macam ritual dan adat istiadat masih kental dilakukan oleh masyarakat. Ini semua demi menjalin kehidupan damai dengan alam, dan menghormati leluhur terdahulu. Tak jarang, Yanis dan Sunarti menerawang kembali sebuah peradaban yang dulunya pernah berjaya.

Ladu tidak hanya bercerita tentang letusan gunung dan hilangnya sebuah pemukiman dan kesuburan tanah. Malam-malam Yanis dan Sunarti dilereng gunung diisi dengan persoalan kemanusiaan, cinta, keyakinan dan keabadian. Dua hal ini menjadi perdebatan tersendiri antara mereka.

Meski memiliki keyakinan yang berbeda terhadap ciptaan Tuhan, mereka tidak semata menghujat keyakinan orang kebanyakan. Bagi mereka, keyakinan yang dianut adalah pilihan setiap insan. Adalah tanggungjawab insan tersebut dengan penciptanya atas keyakinan yang dipilih.

Mereka juga memprotes orang yang melakukan tindakan kekerasan hanya karena keyakinan yang dianut.

Beginilah hari-hari perjalanan mereka. Penuh dengan pertanyaan dalam hati. Mereka hanya bisa berdiskusi dan mencurahkannya satu sama lain. Menghabiskan waktu bersama dilereng gunung. Memahami tiap perisitwa yang terjadi dan mencari tahu kehidupan sosial masyarakat. Jarang keduanya pulang ke rumah.

Yanis adalah seorang pemuda dari wilayah timur Indonesia. Sedangkan Sunarti perempuan Jawa berkerudung yang dulunya taat beribadah.

Disatu kesempatan mengunjungi gunung di Pulau Jawa, Sunarti menyempatkan pulang ke rumah bersama Yanis. Ibunya yang sudah lama tak berjumpa merasa senang dan seketika murung saat melihat anaknya. Perubahan telah terjadi pada diri Sunarti. Ia telah keluar dari keyakinannya.

Kesedihan bahkan semakin mendera hati perempuan tersebut. Sunarti mengabarkan bahwa ia telah menikah dengan Yanis. Pernikahan ini tanpa sepengetahuan orangtuanya. Bahkan orangtua Yanis pun tidak mengetahuinya. Mereka menikah di Pager Jurang.

Meski begitu, ibu Sunarti tidak bisa menghalangi keinginan anaknya. Ia hanya berdoa agar anaknya selalu diberi perlindungan dan keselamatan, yang tentunya dibukakan kembali jalan hidup yang semula.
Cerita diatas hanya sepenggelan peristiwa dalam novel. Jika dibaca lebih jauh, banyak pelajaran yang dapat dimaknai. Terutama bagaimana hidup damai dengan alam, menghargai dan menjaganya. Sisi kemanusiaan yang ditampilkan dalam cerita ini juga dapat menjadi renungan. Cinta dan romantisme hanyalah sebagai jalan tengah dalam alur cerita.

Tak ketinggalan, sebagai penikmat kopi, berbagai macam jenis bubuk hitam khas nusantara ini juga diperkenalkan oleh Tosca Santoso.*Agus Alfinanda.
Baca selengkapnya