![]() |
| Jalan Pangeran Hidayat dilihat dari Google Maps |
“Usaha turunan atau sistem
regenerasi,” demikian usaha ini bisa bertahan, bahkan mampu berkembang.
Meskipun para pebisnis plakat menerima upah yang tak banyak, skill yang dipunya
tentulah sangat mahal harganya.
Oleh Irwan Situmorang
Menelusuri Jl. Pangeran Hidayat dan Jl. Ahmad Yani, kemudian tembus di Jl. Sudirman, beragam aktifitas ekonomi masyarakat terpampang di depan mata kita. Salah satunya adalah kesibukan para pengrajin, seperti pengrajin plakat, stempel, spanduk hingga sticker tumplek. Jika kita amati lagi dengan seksama, kita akan dipuaskan dengan berbagai hasil kerja pebisnis seni ini, yang sengaja mereka pajangkan di sepanjang Jl. Pangeran Hidayat.
Usaha yang dilakoni masyarakat ini bersifat turunan atau regenerasi. Konon, usaha ini dirintis oleh satu orang saja, Ibrahim namanya. “Pak Ibrahim, suami saya yang pertama buka usaha di daerah ini,” ujar Yani (47), istri Ibrahim ikut membantu usaha suaminya tersebut. Buah dari usaha itu, Ibrahim kini telah memiliki sebuah toko. Namanya “Ferry Reklame”. Dengan enam orang tenaga teknisi, “Ferry Reklame” dalam kesehariannya memproduksi plakat dan poster.
Sebagian besar para pelaku usaha di tempat ini mengenal baik Ibrahim dan pernah bekerja kepadanya. “Mereka yang bekerja disini, banyak diantaranya yang telah buka usaha sendiri,” ujar Yani. Bahkan dua orang putra Ibrahim pun kini ikut membuka usaha yang sama.
Kembali ke masa lalu, Ibrahim menceritakan bahwa awal menjalani usahanya, sekitar 20 tahun silam ia hanya bermodalkan gerobak dorong. Dengan alat ini, ia menjajakan produknya keliling Jakarta dan kadang mangkal di Proyek Senen Jakarta. Tahun 1994 Ibrahim hijrah ke Pekanbaru. Ia pun mulai membuka usahanya. Tepatnya di JL. Pangeran Hidayat. “Dulu kami menyewa kedai (toko, red) disana,” ujar Yani menunjuk ke arah selatan.
Selain Ibrahim, juga ada Ardi (35). Pria berdarah Padang ini telah melakoni usaha yang sama hampir 11 tahun lamanya. “Delapan tahun saya bekerja pada orang lain, kini saya bisa buka usaha sendiri,” tutur Ardi. Ia memiliki kios berukuran 3x4 meter yang terletak di Jl. Pangeran Hidayat.
Untuk mengasah ketelatenan dalam menghasilkan produk yang memuaskan, para pebisnis ini sebelum mendirikan usaha sendiri, menyibukkan dirinya dengan berguru pada yang lebih mahir. Yayasan Bina Insani Riau Utama (Yabiru) adalah salah satunya. Yayasan milik H. Beretta Hasan ini bergerak di bidang pembinaan anak putus sekolah untuk dilatih melukis, mengukir, memahat dan membuat plakat. Hasan mengatakan di tempatnya ini telah lebih dari 10 orang yang bekerja dan masing-masing membuka usaha sendiri. Termasuk Ardi.
Tak jauh berbeda dengan Ibrahim, Hasan juga salah seorang pengusaha plakat senior. Ia mulai menekuni karir seni dan melukis sejak tahun 1979 lalu. Kemudian mendirikan usaha di Jl. Pangeran Hidayat sekitar tahun 1989 lalu. Memperdalam ilmunya Hasan juga pernah belajar melukis di Malaysia selama tiga tahun.
Bagi Hasan kehadiran pengrajin plakat sangat berarti bagi penduduk Jl. Pangeran Hidayat. Di samping menjadi lapangan kerja baru, juga mengurangi tindakan premanisme. “Dulu tingkat kriminal di daerah ini sangat tinggi, disebabkan banyak pemuda yang menganggur,” ujar Hasan dengan hati lega.
Untuk membuka usaha ini ternyata tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Cukup dengan menyediakan uang sebesar Rp 4 juta. “Modal dasar saya hanya Rp 4 juta, ini sudah termasuk sewa tempat,” demikian dikatakan Ardi. Yang termasuk agak sulit adalah mendapatkan bahan dasar, seperti plat kuningan dan fiber glasses. Bahan-bahan ini hanya ada di Jakarta. Sedangkan bahan pendukung lainnya banyak terdapat di luar kota.
Sementara untuk produksi yang dihasilkan, rupa dan harganya beragam. Mulai dari yang murah hingga mahal tersedia. Untuk harga, penetapannya tergantung pada sejauh mana tingkat kesulitan pembuatan kerajinan ini. kadang mencapai jutaan rupiah. Misalnya pembuatan plakat dalam fiber kaca bening, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta. Pasar sepi bagi pebisnis ini sama sekali tidak menjadi kendala, karena masing-masing pengrajin telah memiliki order langganan tetap tiap tahun.
Selain pemasaran dalam kota, usaha ini juga telah merambah secara nasional bahkan internasional. Reklame Handicraft misalnya, usaha milik Beretta Hasan ini telah mempunyai kerjasama yang baik dengan Singapura, dalam rangka pendistribusian produk. “Pernah kita membuat produksi hingga 500 unit cenderamata ukiran terbuat dari kau yang di eksport ke negara Singapura,” ujar Hasan bangga. ****
Bagikan
Dedikasi dan Seni
4/
5
Oleh
Unknown

