Monday, December 26, 2016

Review Film Surat dari Praha


Baiklah ini merupakan review film saya yang pertama. yang hendak saya review adalah film indonesia berjudul Surat Dari Praha. Peringatan, bagi yang belum menonton film ini dan berencana menontonnya, tulisan saya mengandung spoiler berlebihan. Namanya saja review.

Surat Dari Praha adalah sebuah film Indonesia tahun 2016 yang menjadi karya ketujuh Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara. Film yang dibintangi oleh Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto terinspirasi dari kisah kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa kembali akibat perubahan situasi politik Indonesia tahun 1966 pasca Gerakan 30 September dan karya musik Glenn Fredly sebagai elemen utama cerita. [Wikipedia, 2016]

Pada masa perang dingin, perseteruan blok barat dan blok timur menempatkan Indonesia pada persimpangan. Tahun 1965 terjadi pergolakan ppolitik paling berdarah sepanjang sejarah Indonesia. Orang-orang yang dianggap berhaluan kiri dan mendukung presiden Soekarno disingkirkan. Ratusan Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid) yang dikirim Presiden Soekarno ke Praha, Cekoslovakia dipaksa mengakui pemerintahan baru yang menamai dirinya Orde Baru.
Beberapa kalimat yang muncul di awal film. Menjelaskan latar belakang singkat mengenai alur film tersebut.

Gambar kemudian beralih ke salah satu rumah sakit. Seorang wanita tua tengah terbaring, seorang wanita lagi tengah berdiri didekat jendela tak jauh dari wanita yang berbaring. Mereka Sulastri dan Larasati, ibu dan anak. Tak ada ayah Laras di situ, karena memang sudah tiada sejak ia kecil. Laras menemui ibunya hendak meminjam sertifikat rumah milik ibunya, itu dilakukan untuk membiayai rencana perceraian laras dengan suaminya. Terjadi perdebatan kecil diantara mereka, laras kemudian turun untuk menemui pengacara. Sekembalinya ia ke atas, sang ibu sudah tidak di ruangan. Ia dipindahkan ke ruang operasi. Kemudian di ketahui bahwa ibunya telah tiada.



Laras yang hendak meminta rumah kemudian keukeuh meminta tolong kepada notaris ibunya untuk segera membaca surat wasiat, walaupun itu sehari setelah pemakaman ibunya. Notaris kemudian membacakan wasiat, isinya rumah dan seluruh isinya diberikan kepada ahli waris, Laras. Namun syaratnya ia harus mengirimkan sebuah kotak dan sepucuk surat kepada orang yang beralamat di surat tersebut serta harus mendapatkan tanda tangan dari penerima surat sebagai bukti. Praha, jadi tujuan.

Scene beralih ke seorang laki-laki di suatu kota nan jauh dari Indonesia, Praha. Disini sutradara ingin menggambarkan kehidupan seorang laki-laki tua yang menjadi tujuan surat dari ibu laras. Mahdi Jayasri namanya, biasa dipanggil Jaya.

Laras kemudian datang ke rumah Jaya. Di awal pertemuan mereka sudah terjadi percekcokan. Jaya tak ingin menerima kotak dan surat yang diantar Laras. Kemudian Laras diusir dan disuruh pergi dari rumah Jaya. Laras yang tak tahu apa – apa mengenai isi kotak, siapa Jaya, apa hubungannya dengan keluarganya kemudian pergi.

Di kota yang baru ia datangi, Laras mendapat kemalangan. Ia kemudian dirampok oleh taksi yang ia tumpangi, dan itu menyebabkan dia harus kehilangan harta benda. Hanya kotak dan surat yang dititipkan ibunya yang tersisa. Tak ada cara lain, laras memilih kembali ke rumah Jaya.

Di lain tempat jaya merasa frustasi karena ia tahu bahwa Sulastri, sang pengirim surat yang tak lain ibu laras sudah tiada. Jaya kemudian minum-minum di bar, ditemani seorang pemuda Indonesia juga. Diketahui bahwa Jaya merupakan sarjana nuklir.


Jaya yang kemudian menemukan Laras di depan pintu rumahnya akhirnya membawanya masuk. Laras diizinkan menginap. Sehari kemudian Jaya membawa Laras ke Kedutaan Besar Indonesia. Laras yang tak memiliki tempat menginap sampai seluruh berkas-berkasnya selesai akhirnya kembali menginap ke rumah Jaya.

Mulai dari sini konflik diantara mereka berdua semakin dalam. Laras terus berusaha menggali hubungan Jaya dengan ibunya, sedangkan Jaya keukeuh menolak bercerita.

Laras kemudian membuka isi kotak tersebut, didapatlah tumpukan surat yang dikirim Jaya untuk ibunya. Laras akhirnya tahu bahwa sebelas tahun setelah ibunya menikah, Jaya mengirimkan surat. Terlambat memang jika mengetahui bahwa hubungan keduanya jauh sebelum ibu Laras menikah. Jaya yang saat itu disekolahkan di Praha tak bisa kembali ke Indonesia saat terjadi pergolakan dan pemerintahan berganti ke tangan Soeharto.

Laras menyudutkan Jaya sebagai perusak hubungan ibunya dan ayahnya, dan sebagai penyebab ayahnya meninggal. Sedang Jaya merasa itu bukan salahnya. Jaya terus dan terus mengirimkan surat selama 2 tahun karena ia tak pernah mendapat satu balasan suratpun dari Lastri. Kemudian Jaya memutuskan untuk tidak mengirimkan surat lagi dengan satu surat terakhir yang berisi bahwa ia yakin suratnya tak pernah sampai. Saat itu Lastri yang sudah berkeluarga tak ingin membalas surat Jaya.


Cerita dalam film ini mengalir lambat. Lagu-lagu Glen Fredly jadi back sound cerita. Secara keseluruhan film ini menggambarkan usaha Laras untuk mencari tahu hubungan antara Jaya dan ibunya.

Saya kurang menyukai sifat Laras yang keras kepala, terutama saat ia keukeuh ingin meminjam sertifikat rumah ibunya dan lagi saat sehari setelah ibunya meninggal laras malah meminta surat warisan. Namun sifat Laras yang berani dan pantang menyerah cukup saya sukai. Kalau menurut saya Jaya bersifat peduli namun tak ingin ia tampakkan, dan keras kepala tentunya.

Beberapa pemeran lain ialah Lastri, Dewa, Loretta dan beberapa kawan Jaya yang sudah tua tentunya yang sama-sama kuliah bersamanya dulu.

Kelebihan dari film ini adalah alurnya yang sederhana yang membuat orang menikmati ceritanya. Bumbu konflik yang tidak terlalu kuat, dan iringan musik yang diputar hampir diseluruh bagian film. Entah itu permainan piano, harmonika, senandung ataupun mini konser.

Namun kekurangan film ini menurut saya adalah cerita yang sedikit monoton. Saya berekspetasi bahwa dalam film ini akan dikilas balik mengenai kerasnya hidup Jaya setelah Soekarno lengser, bagaimana ia susah menjalani hidup di Praha, bagaimana ia dikucilkan, bagaimana ia tak dapat kembali ke tanah air, bagaimana hubungannya dengan Lastri, dan masih banyak latar belakang yang ingin saya dapatkan melakui penokohan langsung. Namun yang ada hanya cerita, Jaya hanya menceritakan kisah tersebut melalui ucapan.

Secara keseluruhan film ini cukum menarik untuk ditonton, sedikit menggambarkan kisah masa lalu. Apalagi bagi penggemar film sejarah, ya meskipun disini bukan segi sejarah yang ditonjolkan melainkan sisi romantisme.

Namun ada satu yang mengganjal di hati saya, jelang akhir film saya mendapati hubungan antara Jaya dan Laras semakin dekat, hubungan yang mengarah ke arah dua orang saling menyukai. Bahkan adegan ketika mereka berdua bermain piano bersama menggambarkan kemesraan. Dan ketika scene beralih ke mereka berdua tengah berpelukan di atas sofa membuat saya cukup berfikir berulang kali mengenai mereka berdua. Apakah yang hendak ditampilkan disini? Kedekatan antar orang tua dan anak yang terjalin walaupun mereka tak sedarah? Atau hubungan antar pria dan wanita? Entahlah.



Yah, meskipun demikian saya cukup mengapresiasi film ini. Menurut penilaian saya, dari 10 poin saya memberi nila 7 untuk film ini.

Selamat menonton bagi yang belum, dan selamat berbagi cerita di bawah bagi yang sudah menonton. Salam.
Baca selengkapnya

Monday, December 19, 2016

Cerita Akhir Seorang Penyair


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : Lawan!

Syair itu penggalan puisi Wiji Thukul. Ia buat pada 1986. Judulnya Peringatan. Selalu didengungkan saat orasi hingga kini.

Wiji Thukul lahir dengan nama Wiji Widodo, di Solo 26 Agustus 1963. Ia lahir dari keluarga penarik becak. Keluarganya seorang Katolik. Sejak kecil setiap ahad pagi ia selalu mengajak adiknya sembahyang di Kapel Sorogenen. Saat itu ia aktif menjadi anggota kos kapel. Ia sering membawa novel serial silat karangan Asmaraman Sukowati, Koo Ping Hoo. Selain buku itu, Thukul kerap membawa buku yang disewa dari perpustakaan kampung.

Selain minat baca yang tinggi, Thukul juga sudah mandiri sejak kecil. Sejak SMP, ia sudah kerja macam-macam. Mulai dari loper koran hingga jadi calo tiket bioskop.

Selulus SMP, Thukul masuk Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia atau SMKI di Solo, Jurusan Tari. Selama bersekolah di SMKI, Thukul masih aktif di kapel. Barulah ketika anak-anak kapel akan membuat teater tentang kelahiran kristus, Thukul diperkenalkan dengan Cempe Lawu Warta.

Thukul kemudian gabung dengan Teater Jagat—kependekan dari Teater Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak—dibawah asuhan Cempe Lawu Warta. Ia bergabung pada 1981, saat itu ia masih kelas II di SMKI.

Kondisi ekonomi keluarga yang susah, Thukul memutuskan berhenti sekolah. Ia menyuruh adiknya tetap melanjutkan sekolah sedangkan ia kerja di sebuah toko mebel dekat Keraton Solo sebagi tukang pelitur. Ia malah menghabiskan banyak waktunya di Jagat.

Nama semulanya Widodo diganti Lawu menjadi Thukul. Wiji Thukul berarti biji tumbuh. Lawu sepertinya mengikuti tradisi di Bengkel Teater buatan Rendra yang kerap memberi nama paraban kepada anggotanya.

Awalnya Lawu merasa kesulitan saat mengajari Thukul. Lelaki krempeng itu tak bisa menyayi, ditambah dengan sulitnya ia menyebut “r” pada latihan vokal, ia juga tidak peka di bidang musik. Selain musik, Thukul tidak bisa bermain teater ataupun menari, meskipun ia pernah mengambil jurusan tari sewaktu di SMKI. Namun akhirnya Lawu menemukan bakat tukul sebagai pujangga. Ia suka membaca dan menulis.

Disinilah Thukul digembleng hingga ia menemukan jati dirinya.

Mulanya Thukul buat puisi tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Sampai akhirnya puisi Thukul kian lugas dan kritik sosial kian kental. Thukul menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Puisi Pelo pada 1985.

Selain mengirim karyanya ke media massa, ia biasa mengamen keliling Jawa. Nama Thukul kian berkibar. Hingga ia pun berselisih paham dengan Cempu Lawu.

Sejak itu thukul tak aktif lagi di Jagat. Ia kemudian bersama Halim yang juga aktivis kebudayaan membuat Sanggar Suka Banjir sesuai dengan tempat tinggal yang mereka jadikan sanggar yang acapkali banjir. Thukul mengajak istrinya Siti Diyah Surijah alias Sipon tinggal di sini.

Pada suatu waktu, Thukul, Semsar dan Mulyono berdiskusi di tepi pantai Brumbun, Tulungagung, Jawa Timur. Topiknya penculikan dan penganiayaan hingga tewas Marsinah—seorang buruh yang melakukan seni instalasi patung. Mereka sepakat membentuk Jaringan Kesenian Rakyat atau Jaker. Tujuannya menaungi sesama seniman untuk melawan tindakan represif pemerintah.

Beberapa anggota inti Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) yang kemudian hari jadi Partai Rakyat Demokratik bergabung. Jaker pun terpecah karena perbedaan prinsip. Anggota inti seperti Semsar, Mulyono dan Hilmar keluar dari Jaker. Thukul menjadikan Jaker sebagai sayap PRD.

Sebelumnya, Thukul pernah ikut aksi demonstrasi bersama ribuan buruh dan mahasiswa lain di sepanjang jalan menuju PT Sri Rejeki Isman Texille (Sritex). Kerusuhan akhirnya pecah. Aparat membabi-buta membubarkan demonstran. Saat itu Thukul ditangkap dan dihajar habis-habisan karena dianggap sebagai dalang demonstrasi. Dipukul, tendang bahkan kepalanya dibenturkan ke kap mobil jip, menyebabkan mata kanannya rusak.

PADA 22 Juli 1996 Thukul membacakan puisi pada deklarasi berdirinya PRD di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta. Ditambah kerusuhan 27 Juli 1996 pengambil alihan kantor pusat PDIP.

Sejak itulah pelarian Wiji Thukul dimulai. Hampir separuh hidupnya ia habiskan untuk sembunyi dan berlari dari kejaran pemerintah. Dibulan yang sama juga Tim Mawar dibentuk oleh Komando Pasukan Khusus atau Kopassus untuk menculik aktivis.

Thukul nomaden. Ia selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain, satu daerah ke daerah lain. Dari Solo mula-mula ia ke Wonogiri, lalu ke Yogyakarta, Magelang dan kemudian Salatiga. Selama perjalanan ini ia menulis puisi Aku Diburu Pemerintahku Sendiri. Setelah itu pindah ke Jakarta untuk menemui Yosep Stanley Adi Prasetyo dan Arif Budiman, disini ia juga menulis puisi Buat L.Ch & A.B.

Thukul semakin sering berpindah. Pontianak, Solo, Jakarta, Parangtritis, Cikokol, Bengkulu, dan beberapa tempat lainnya sejak Juli 1996 hingga Mei 1998.

Thukul diberi kode Kulkas. Ibarat benda yang dipindah tangan oleh beberapa aktivis prodemokrasi, PRD dan seniman.

Selama persembunyiannya Thukul kerap hubungi Sipon. Ia tanya tentang kedua anaknya Wani dan Fajar. Selain itu Wahyu adik kandung Thukul, Lawu, Jaap Erkeleens dan beberapa Aktivis Prodemokrasi.

Bom meledak di unit 510 Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat pada 18 Januari 1998. Kata Prabowo Subianto, aktivis itu belum ahli merakit bom. “Salah sentuh jadinya meledak.” Peristiwa itu menjadi dalih pemerintah menyapu bersih aktivis.

Gerak Thukul tak terlihat lagi. Ia raib. Tak ada kabar sama sekali.

Keluarganya menanti. Hingga kini, Wiji Thukul yang Tuna Wicara itu tak lagi tersiar rimbanya. Masih hidup, atau mati.

BUKU ini mengisahkan perjalanan Wiji Thukul dari kecil hingga akhirnya ia hilang. Jejak persembunyian Thukul dan juga latar kehidupan dia sebagai bingkai cerita.

Pembaca akan dibawa menyelami kehidupan Wiji Thukul. Bagaimana perasaan was-was, ketakutan dan paranoid yang muncul akibat tindakan represif pemerintah saat itu.

Alur cerita bolak-balik membuat pembaca semakin merasakan intensnya gangguan dan serangan mental yang dialami Wiji Thukul.

Penulis dalam buku ini langsung terjun ke lapangan, ke gang-gang sempit dan tempat terpencil yang memiliki kaitan langsung dengan Wiji Thukul sehingga kita sebagai pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas tentang dimana Thukul saat itu, bagaimana tempat persembunyiannya.

Gaya penulisan naratif membuat buku Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang semakin mudah untuk dibaca. Secara keseluruhan buku ini cukup bagus untuk dibaca kalangan pelajar, mahasiswa maupun umum.

Sebuah buku yang menjadi jilid perdana dari seri prahara-prahara orde baru yang diangkat dari liputan khusus Tempo.*


Judul buku : Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang
Tim penyunting : Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG
Tim Produksi : Djunaedi, Eko Punto Pambudi, Aji Yuliarto, Rizal Zulfadli, Kendra H, Agus Dermawan, Tri Watno Widodo
Tahun terbit : 2013 (cetakan ketiga, Februari 2016)
Tebal halaman : 160 hlm; 16 cm x 23 cm
Baca selengkapnya

Thursday, October 13, 2016

Paritan, Tradisi Khas Desa Sungai Linau

Penguburan kepala sapi


Cara masyarakat Desa Sungai Linau mengucap syukur terhadap limpahan rezeki yang mereka peroleh. Mulai dari yasinan hingga makan bersama.

Oleh Trinata Pardede

PAGI ITU SEORANG LELAKI BERBAJU MELAYU HITAM POLOS BERDIRI DI DEPAN LUBANG. Tak besar, hanya selebar satu jengkal tangan pria dewasa dan kedalamannya sekitar 20 centimeter. Melihat ke dalam lubang, ada cairan kemerahan yang mengisinya. Ini darah dari tiga ekor kambing yang baru saja dipotong.

Lelaki ini bernama Wasono. Ia merupakan tetua di Desa Sungai Linau. Berumur 58 tahun dan kerap disapa Mbah, ia diberi kepercayaan menjalankan ritual adat khas Sungai Linau, Kecamatan Siak Kecil, Bengkalis. Paritan. Wasono telah berdiri di depan lubang dan bersiap menutupnya. Kain putih selebar setengah meter ini dibentangkan. Satu bagian potongan kaki dan irisan kulit kepala kambing disusun diatasnya. Disimpul dalam satu ikatan, kemudian dimasukkan ke dalam lubang. Tahun lalu, kaki ditanam bersama potongan utuh kepala kambing. Karena pertimbangan masih banyak manfaatnya maka diganti tahun ini hanya irisan kulit kepala.

Wasono jelaskan darah dan irisan kulit dari kepala itu perlambang pemberian masyarakat dan ucapan syukur kepada Sang pencipta. Dari saku ia ambil secarik kertas, dibakar, dan ia langsung berkomat-kamit. Tak tahu apa yang dikatakannya. Setelah selesai, ia segera menutup semua bahan di lubang dengan tanah. Selesailah prosesi inti dari acara Paritan.

SUDAH DUA TAHUN WASONO PIMPIN TRADISI PARITAN. “Warga yang minta agar saya yang terima arwah itu,” ucapnya. Ilmu ini diwariskan dari silsilah keluarga. Ia dapat dari ayahnya, Bardi, sebelumya ada Amir Yunus dan sesepuh yang pertama kali perkenalkan tradisi ini adalah Supardi.

Kegiatan ini sudah berjalan selama tiga puluh lima tahun. Namun lima tahun pertama, mereka melakukannya sesuai dengan suku yang ada di desa. Sebab warga awal di Sungai Linau adalah transmigran berasal dari berbagai suku Jawa. Ada berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Setelah administrasi desa dibuat dan dipimpin seorang kepala desa, barulah setiap ketua suku dipertemukan untuk menyatukan acara bersih desa dengan satu kegiatan dan nama baru. Semua sepakat, bersih desa dinamakan Paritan.

Paritan bermakna bersedekah kepada bumi. Dalam budaya Jawa, ini bentuk ucapan terima kasih kepada tuhan karena masyarakat diberi hasil panen yang banyak. Sehingga diperlukan upacara pengucapan syukur dan bersihkan diri untuk lebih ingat lagi dengan pencipta.

Paritan ke tiga puluh lima ini jatuh pada 8 September tahun lalu. Dalam hitungan kalender Jawa, 24 Sela 1948 di Selasa Kliwon. “Semua ini sudah ada perhitungannya, tidak bisa salah,” ucap Wasono. Perayaan ini jatuh dalam hari ketujuh, pasaran lima tahun kedelapan diwindu keempat.

Doa bersama warga sebelum makan


SEBELUM ACARA INTI PARITAN PADA PAGI HARI, masyarakat sibuk siapkan rangkaian acara. Mulai dari rapat pembahasan hingga yasinan dan kenduri. Semua warga berpartisipasi mensukseskan kegiatan ini.

Pada 7 September siang, balai pertemuan adat desa ramai, dua sisi bilik penuh warga. Panganan yang sudah dimasak bersama oleh warga satu persatu mulai dikeluarkan. Nasi suci atau nasi putih, gulai kambing dan ayam yang pertama datang. Ada tekol suci ulang tari atau nasi uduk selanjutnya dihidangkan. “Ini ungkapan syukur kita kepada Nabi Muhamad sebagai tokoh panutan,” ucap Wasono. Tidak lupa juga nasi tumpeng juga disajikan. “Bentuk segitiga itu gambarkan harapan warga kampung agar tetap ‘lurus’ dan doa selama ini dikabulkan,” lanjut Wasono.

Warga berkumpul dan bersantap makanan bersama

Kemudian ada warga yang bawa dua piring, sebelah kiri ketupat, kanan rebusan ubi kayu dan kentang. Makanan ini perlambang obat yang akan menyembuhkan penyakit yang diderita warga. Juga bubur nasi bewarna merah dan putih dua piring. Namun menurut penjelasan Wasono, seharusnya bubur nasi ini ada 5 piring. Dua piring berisi penuh bubur merah dan putih. Dua lagi berisi setengah, terakhir dalam satu piring digabung dua warna tadi. Merah perlambang keberanian dan putih kesucian.

Hidangan terakhir, nasi kuning dipadukan dengan telur rebus dan pulut kunyit. “Ini buat sanak danyang yang menjaga kampung,” ucap Wasono. Sanak danyang sebutan warga untuk makhluk gaib. Ini bentuk permintaan maaf jika ada kesalahan yang dilakukan warga desa.

Usai semua telah dihidangkan, seluruh warga menyatu santap hidangan yang tersedia. Dalam tradisi masyarakat, warga akan membawa tempat makanan yang diletakkan di dapur. Setelah acara makan selesai, nanti akan diambil lagi karena para juru masak sudah memasukkan bekal makanan kedalamnya. Selagi persediaan makanan cukup, warga akan dibekali lebih, tiap mereka dapat satu kantong berisi makanan.

Usai makan bersama atau kenduri, malam harinya warga akan mengadakan wirid yasin. Masyarakat bersama membaca doa agar desa mereka dapat selalu dilindungi dan dibersihkan dari berbagai kesalahan. Sehingga warga dapat hidup rukun dan menghasilkan panen yang baik. Setelahnya akan diisi dengan iringan musik kompang. Menurut Wasono, juga pernah ada diisi dengan penampilan kuda lumping, wayang ataupun jaranan.

Berganti pagi, barulah tiga kambing yang tersedia didapat dari pungutan tiap warga dipotong oleh Ahmad Sujangik. Ia tokoh agama disana dan selalu dipercaya warga untuk memotong hewan ternak yang akan disajikan saat pesta. Setelah didoakan oleh Wasono, kambing dibakar dan dimasak oleh warga.

WALAUPUN INI ACARA DESA, Wasono mengeluhkan sekarang tidak banyak warga yang peduli. Untuk adakan makan bersama serta membeli kambing, tiap warga dimintai sumbangan Rp 50 ribu. Namun masih banyak yang belum mau berpartisipasi. “Ada yang nyumbang tapi cuma Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” keluh Wasono.

Menurut Jangik—sapaan akrab Ahmad Sujangik—partisipasi masyarakat juga menurun. Ia bandingkan dengan empat tahun lalu, jumlah anak-anak yang datang hadiri prosesi acara ini ramai. Namun tiap tahun terus berkurang. Ia merasa kesadaran warga terkait makna dari Paritan tidak banyak lagi yang tahu, “Malah lebih ramai pesta pernikahan,” ujarnya.

Menurut Elmustian Rahman, Peneliti Kebudayaan Melayu Riau, budaya ini haruslah menyatu dengan masyarakat. Dimana tiap langkah dalam prosesinya memiliki makna tersendiri yang harus dipahami setiap warga. Sehingga lebih mengakar kepada masyarakat. “Seperti menanam kepala kambing, itu dimaknai sebagai tolak bencana, atau disebut disemah,” ujar Elmustian. Namun sudah banyak percampuran budaya, terutama dipengaruhi ajaran islam serta budaya melayu karena ada di Bengkalis.#
Baca selengkapnya

Sunday, September 25, 2016

Masjid Kubro di Koto Pomban



Rumah Ibadah Muslim masa Kerajaan Kampar. Masih berdiri kokoh meski sebagian material bangunan diganti. Bentuknya juga sedikit berubah.
 
Oleh Agus Alfinanda

SEBUAH gapura setinggi lima meter berdiri di depan masjid, tepat di tepi jalan. Tiangnya ada delapan. Empat di sisi kiri dan empat di sisi kanan. Lebarnya sekira tiga meter. Tiang tersebut diberi cat biru. Bagian atas beratap seng. Sebelah kiri gapura tersedia tempat parkir kendaraan roda dua.

Jarak antara gapura dengan masjid sekitar dua puluh langkah kaki orang dewasa. Jarak ini dijadikan pekarangan masjid yang dilapisi paving block. Tak ada pohon atau tanaman hias apa pun dalam pekarangan. Tembok setinggi bahu orang dewasa mengelilingi pekarangan dan masjid. Rumput liar memenuhi tiap sudut pekarangan.

Jika berdiri di tengah pekarangan, terlihat atap masjid berbentuk limas berlapis tiga. Ujung atapnya runcing. Tiap sudut cucuran atap terdapat ukiran sayap layang-layang. Bagi masyarakat Melayu setempat, bentuk ini bermakna kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.

Sebelah kiri pintu masuk jamaah wanita tersedia tempat wudhu berikut toilet. Tepat depan pintu yang sama berdiri satu menara. Tingginya melebihi bangunan masjid. Sebelum memiliki alat pengeras suara, azan dikumandangkan dari atas menara oleh muadzin.

“Terakhir orang azan di atas menara ini tahun 1965,” kenang Darun Nafis, Ghorim Masjid yang sudah berusia 65 tahun.

Untuk masuk ke dalam masjid melalui dua arah. Pintu masuk bagi jamaah laki-laki sebelah utara searah dengan gapura. Sedangkan untuk jamaah perempuan lewat pintu sebelah timur. Kata Darun Nafis, dulu, dekat pintu masuk jamaah perempuan terdapat tangga yang menghubungkan ke menara. “Dari sinilah muadzin naik,” ujarnya sambil menunjukkan bekas lokasi berdirinya tangga.

Sebelum masuk ke dalam masjid, terlebih dahulu meniti lima anak tangga. Tiba di dalam, pandangan akan tertuju ke seluruh isi masjid. Lebar masjid sembilan shaf. Empat shaf untuk laki-laki dan lima shaf untuk perempuan. Lantainya berlapis keramik berukuran 30 kali 30 centimeter yang ditutup oleh sajadah.

Terdapat enam belas tiang penyangga di dalamnya. Empat tiang di tengah tingginya mencapai tiga belas meter. Jarak antar tiang sekitar dua meter. Masing-masing tiang dipasang kipas angin. Tiang ini dari kayu dan sudah terlihat keropos. Sekilas tiang ini seperti baru karena dilapisi cat putih.

Dinding masjid terbuat dari material beton. Separuhnya dilapisi cat warna kuning separuhnya lagi dilapisi keramik. Tiap sisi dinding terdapat jendela. Jumlah keseluruhannya 27.

Dinding bagian depan dipenuhi ukiran kaligrafi yang dipahat langsung dari dinding. “Pemahatnya orang dari air tiris,” jelas Hasyim, Imam pertama Masjid sekaligus Ketua Pembangunan Masjid. Tinggi dinding masjid satu jengkal di atas kepala orang dewasa.

RUMAH ibadah bagi umat muslim ini diberi nama Masjid Kubro. Berdiri di Dusun Padang Merbau Barat, Desa Koto Perambahan, Kecamatan Kampar Timur. Sekitar 30 kilometer dari Kota Pekanbaru. Masyarakat setempat menyebut daerahnya Koto Pomban.

Sebelum diberi nama Masjid Kubro, pada awal berdirinya masjid, masyarakat setempat menyebutnya Masjid Raja Pekantua. Dinamakan demikian karena masjid tersebut dibangun oleh Raja dan disekitar masjid terdapat pasar yang dinamakan Pekantua— pekan nama lain dari pasar.

Sejak 1933 pasar tersebut dipindahkan ditepi jalan lintas Pekanbaru-Bangkinang. Orang mengenalnya pasar Kampar. Kini, bekas pasar di sekitar masjid sudah dipenuhi pemukiman warga.

Tak ada yang tahu pasti kapan berdirinya Masjid Kubro. Al Afendi yang kerap disapa Datuk Pondi menyebutkan, sekitar tahun 1805 atau 1815.

“Tapi, Masjid Kubro adalah rumah ibadah pertama di Kenegerian Kampar. Lebih tua dari Masjid Jami di Air Tiris yang dibangun pada 1901,” ujar pria yang bergelar Datuk Majo Besar.

Hasyim berkata lain, sepengetahuannya, Masjid Kubro dibangun pada 1897. Darun Nafis sendiri tidak mengetahui sama sekali. Peralihan nama Masjid Pekantua ke Masjid Kubro sendiri diakui sekitar tahun 1990-an. Nama Kubro dipakai karena Masjid tersebut satu-satunya yang ada pada waktu itu dan cukup besar. Kubro dalam bahasa arab artinya besar.

Kini di lokasi yang sama terdapat tiga masjid lagi dan lebih besar dari Masjid Kubro. Jarak antar masjid tidak begitu jauh.

Pertama didirikan, bangunan Masjid Kubro berupa rumah panggung. Dinding masjid condong ke luar. Materialnya didominasi oleh kayu hutan. Kata Datuk Pondi, atap masjid pun dari kayu. “Sekarang sudah diganti dengan seng,” ujar Hasyim. Jenis kayu yang digunakan waktu itu kayu angau.

“Jenis kayu itu tak ada lagi ditemukan,” kata Datuk Pondi.

Untuk berwudhu, disediakan air dalam kula—bak air yang tingginya kurang lebih satu meter— yang ditampung di bawah cucuran atap. Bila air habis, jamaah mengambil wudhu di sungai. Lima puluh meter dari masjid. Kini, tak ada lagi kula yang diceritakan oleh Datuk Pondi.

Renovasi yang pertama kali dilakukan pada lantai masjid. Kolong masjid ditimbun dengan batu kerikil yang diangkut dari sungai terdekat. Pengerjaan ini dilakukan oleh masyarakat setempat secara gotong royong. Lantai masjid pun dirubah jadi beton. Satu tahun kemudian 1974, giliran dinding masjid yang diganti dengan beton, bentuknya pun berubah.

“Waktu mengganti dinding, bagian dekat jendela ini sempat roboh karena penyangganya tidak kuat. Semennya juga belum kering waktu itu,” terang Darun Nafis sambil menunjuk jendela.

Renovasi berlanjut pada atap masjid. Perubahan ini diperkirakan pada masa Malin Boge. “Saat kecil saya sudah menjumpai atap itu berbahan seng,” ujar Yusuf, cucu Malin Boge. Yusuf sempat menjadi pengurus Masjid Kubro. Ia lahir 1930.

Almarhum Malin Boge merupakan tokoh adat yang membidangi agama. Almarhum pernah menjadi pengurus masjid. Boge dimakamkan di samping masjid sebelah selatan, di luar tembok.


Menurut Ani, cicit Boge, dulu tiap Jumat, jamaah berdatangan dari berbagai kampung. Seperti Kuapan, Pulau Rambai dan Jawi-jawi. Mereka ada yang datang menggunakan rakit untuk menyeberang sungai. Boge meminta istri dan perempuan desa menyiapkan makanan bagi jamaah yang datang dari jauh.

“Aghi apolah kan dimasak, ntah itu gulai cabodaklah kan, condo itu tiok jumat cito niniok dulu,” kenang Ani.

Yusuf menceritakan, semasa kecil, selain tempat shalat, Masjid Kubro juga tempat belajar mengaji bagi masyarakat. Guru-gurunya dari kampung sekitar. Seperti Air Tiris, Penyesawan dan Danau Bingkuang. Ada juga yang didatangkan dari Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Murid duduk bershaf menghadap guru sambil mendengar dengan seksama,” kenang Yusuf. Selain itu, perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Israj Miraj juga kerap dilaksanakan di Masjid Kubro.

PAGI, Jumat 29 Juli, kami mendatangi Kantor Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kampar, di Kota Bangkinang. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami pada seorang pegawai, ia mempersilakan untuk menunggu.

Tak lama, Syamsul Bahri Kepala Dinas, mengajak masuk ke ruangannya. Kami hendak mencari keterangan tentang Masjid Kubro. Darinya kami tidak memperoleh informasi banyak terkait bangunan tua itu. Tapi katanya, Masjid Kubro sempat ingin dijadikan cagar budaya. “Karena bentuknya sudah berubah, usaha itu urung dilakukan.”

Diakhir wawancara, Syamsul Bahri memberikan satu buku berjudul Sejarah Kampar. Namun, dibuka tersebut juga tidak ada menyinggung soal Masjid Kubro. Syamsul Bahri juga meminta kami untuk menjumpai A. Latih Hasyim, salah seorang penulis buku tersebut.

Rumah Latif di jalan Kartini, tak jauh dari Kantor Disparpora. Selain sebagai penulis, Latif juga mengkoleksi berbagai benda sejarah. Rumahnya dijadikan museum, diberi nama A. Latif Malay Museum. Darinya, kami juga tidak mendapatkan informasi banyak. Hanya saja ia mengatakan, dulu Masjid Kubro letaknya tidak jauh dari istana Kerajaan Kampar.*
Baca selengkapnya

Saturday, September 24, 2016

Ladu, Alam Kemanusiaan dan Romantisme

Sampul buku ladu

Judul        : Ladu
Penulis     : Tosca Santoso
Tebal        : v + 322 halaman
Terbit       : 2016
Penerbit    : Kaliandra


SEBUAH novel berjudul Ladu telah dilaunching di sebuah cafe jalan Rajawali, Pekanbaru, akhir Mei lalu. Green Radio—media informasi yang fokus mengabarkan tentang lingkungan—sebagai penanggungjawab peluncuran novel tersebut. Novel ini juga telah dilaunching dibeberapa tempat di Jakarta hingga Bogor.

Ladu dikenal dalam bahasa Jawa. Maknanya, endapan tanah merah. Seperti partikel Tuhan, ia pembentuk zat yang hidup dan tak hidup. Puitisnya, Ladu adalah awal dan akhir sekaligus.

Penulisnya Tosca Santoso. Ini adalah novel keduanya setelah Sarongge yang juga pernah diluncurkan di Pekanbaru. Keduanya bercerita tentang alam, kehidupan dan romantisme. Namun, Ladu mengambil background cerita dari perjalanan mendaki gunung.

Yanis dan Sunarti merupakan sepasang manusia yang menjadi tokoh dalam novel kali ini. Perjumpaan awal mereka pertama kali terjadi di Kaliadem, sebuah perkampungan dekat lereng gunung merapi.
Suasana kedatangan mereka untuk yang kedua kalinya sudah jauh berbeda. Kerucut merapi tidak lagi berbentuk sempurna akibat muntahan cairan magma yang baru saja reda dan menenggelamkan pemukiman. Kini, persis tempat mereka berdiri adalah sebuah perkampungan yang dulunya menjadi tempat persinggahan.

Dari sini mereka memulai petualangan dari gunung ke gunung. Dari Kaliadem, Liangan, Pelataran Dieng, Gede Pangrango, Kelud, Rinjani, Tambora hingga Lore Lindu. Mereka bermalam disetiap gunung yang disinggahi. Kopi asli yang diperoleh dari penduduk setempat menemani malam mereka.
Dari tiap lereng gunung yang mereka datangi mengalir banyak cerita. Cara masyarakat bertahan dan bergantung hidup dikaki gunung serta memahami tanda-tanda alam, menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi kedua insan ini.

Masyarakat tidak hanya semata mengambil hasil alam, tetapi juga menjaganya dan berdoa selalu agar
diberi keberuntungan dari sertiap peristiwa yang terjadi.

Segala macam ritual dan adat istiadat masih kental dilakukan oleh masyarakat. Ini semua demi menjalin kehidupan damai dengan alam, dan menghormati leluhur terdahulu. Tak jarang, Yanis dan Sunarti menerawang kembali sebuah peradaban yang dulunya pernah berjaya.

Ladu tidak hanya bercerita tentang letusan gunung dan hilangnya sebuah pemukiman dan kesuburan tanah. Malam-malam Yanis dan Sunarti dilereng gunung diisi dengan persoalan kemanusiaan, cinta, keyakinan dan keabadian. Dua hal ini menjadi perdebatan tersendiri antara mereka.

Meski memiliki keyakinan yang berbeda terhadap ciptaan Tuhan, mereka tidak semata menghujat keyakinan orang kebanyakan. Bagi mereka, keyakinan yang dianut adalah pilihan setiap insan. Adalah tanggungjawab insan tersebut dengan penciptanya atas keyakinan yang dipilih.

Mereka juga memprotes orang yang melakukan tindakan kekerasan hanya karena keyakinan yang dianut.

Beginilah hari-hari perjalanan mereka. Penuh dengan pertanyaan dalam hati. Mereka hanya bisa berdiskusi dan mencurahkannya satu sama lain. Menghabiskan waktu bersama dilereng gunung. Memahami tiap perisitwa yang terjadi dan mencari tahu kehidupan sosial masyarakat. Jarang keduanya pulang ke rumah.

Yanis adalah seorang pemuda dari wilayah timur Indonesia. Sedangkan Sunarti perempuan Jawa berkerudung yang dulunya taat beribadah.

Disatu kesempatan mengunjungi gunung di Pulau Jawa, Sunarti menyempatkan pulang ke rumah bersama Yanis. Ibunya yang sudah lama tak berjumpa merasa senang dan seketika murung saat melihat anaknya. Perubahan telah terjadi pada diri Sunarti. Ia telah keluar dari keyakinannya.

Kesedihan bahkan semakin mendera hati perempuan tersebut. Sunarti mengabarkan bahwa ia telah menikah dengan Yanis. Pernikahan ini tanpa sepengetahuan orangtuanya. Bahkan orangtua Yanis pun tidak mengetahuinya. Mereka menikah di Pager Jurang.

Meski begitu, ibu Sunarti tidak bisa menghalangi keinginan anaknya. Ia hanya berdoa agar anaknya selalu diberi perlindungan dan keselamatan, yang tentunya dibukakan kembali jalan hidup yang semula.
Cerita diatas hanya sepenggelan peristiwa dalam novel. Jika dibaca lebih jauh, banyak pelajaran yang dapat dimaknai. Terutama bagaimana hidup damai dengan alam, menghargai dan menjaganya. Sisi kemanusiaan yang ditampilkan dalam cerita ini juga dapat menjadi renungan. Cinta dan romantisme hanyalah sebagai jalan tengah dalam alur cerita.

Tak ketinggalan, sebagai penikmat kopi, berbagai macam jenis bubuk hitam khas nusantara ini juga diperkenalkan oleh Tosca Santoso.*Agus Alfinanda.
Baca selengkapnya

Wednesday, September 21, 2016

Dedikasi dan Seni


Jalan Pangeran Hidayat dilihat dari Google Maps

“Usaha turunan atau sistem regenerasi,” demikian usaha ini bisa bertahan, bahkan mampu berkembang. Meskipun para pebisnis plakat menerima upah yang tak banyak, skill yang dipunya tentulah sangat mahal harganya.

Oleh Irwan Situmorang


   Menelusuri Jl. Pangeran Hidayat dan Jl. Ahmad Yani, kemudian tembus di Jl. Sudirman, beragam aktifitas ekonomi masyarakat terpampang di depan mata kita. Salah satunya adalah kesibukan para pengrajin, seperti pengrajin plakat, stempel, spanduk hingga sticker tumplek. Jika kita amati lagi dengan seksama, kita akan dipuaskan dengan berbagai  hasil kerja pebisnis seni ini, yang sengaja mereka pajangkan di sepanjang Jl. Pangeran Hidayat.

    Usaha yang dilakoni masyarakat ini bersifat turunan atau regenerasi. Konon, usaha ini dirintis oleh satu orang saja, Ibrahim namanya. “Pak Ibrahim, suami saya yang pertama buka usaha di daerah ini,” ujar Yani (47), istri Ibrahim ikut membantu usaha suaminya tersebut. Buah dari usaha itu, Ibrahim kini telah memiliki sebuah toko. Namanya “Ferry Reklame”. Dengan enam orang tenaga teknisi, “Ferry Reklame” dalam kesehariannya memproduksi plakat dan poster.

    Sebagian besar para pelaku usaha di tempat ini mengenal baik Ibrahim dan pernah bekerja kepadanya. “Mereka yang bekerja disini, banyak diantaranya yang telah buka usaha sendiri,” ujar Yani. Bahkan dua orang putra Ibrahim pun kini ikut membuka usaha yang sama.

    Kembali ke masa lalu, Ibrahim menceritakan bahwa awal menjalani usahanya, sekitar 20 tahun silam ia hanya bermodalkan gerobak dorong. Dengan alat ini, ia menjajakan produknya keliling Jakarta dan kadang mangkal di Proyek Senen Jakarta. Tahun 1994 Ibrahim hijrah ke Pekanbaru. Ia pun mulai membuka usahanya. Tepatnya di JL. Pangeran Hidayat. “Dulu kami menyewa kedai (toko, red) disana,” ujar Yani menunjuk ke arah selatan.

    Selain Ibrahim, juga ada Ardi (35). Pria berdarah Padang ini telah melakoni usaha yang sama hampir 11 tahun lamanya. “Delapan tahun saya bekerja pada orang lain, kini saya bisa buka usaha sendiri,” tutur Ardi. Ia memiliki kios berukuran 3x4 meter yang terletak di Jl. Pangeran Hidayat.

    Untuk mengasah ketelatenan dalam menghasilkan produk yang memuaskan, para pebisnis ini sebelum mendirikan usaha sendiri, menyibukkan dirinya dengan berguru pada yang lebih mahir. Yayasan Bina Insani Riau Utama (Yabiru) adalah salah satunya. Yayasan milik H. Beretta Hasan ini bergerak di bidang pembinaan anak putus sekolah untuk dilatih melukis, mengukir, memahat dan membuat plakat. Hasan mengatakan di tempatnya ini telah lebih dari 10 orang yang bekerja dan masing-masing membuka usaha sendiri. Termasuk Ardi.

    Tak jauh berbeda dengan Ibrahim, Hasan juga salah seorang pengusaha plakat senior. Ia mulai menekuni karir seni dan melukis sejak tahun 1979 lalu. Kemudian mendirikan usaha di Jl. Pangeran Hidayat sekitar tahun 1989 lalu. Memperdalam ilmunya Hasan juga pernah belajar melukis di Malaysia selama tiga tahun.

    Bagi Hasan kehadiran pengrajin plakat sangat berarti bagi penduduk Jl. Pangeran Hidayat. Di samping menjadi lapangan kerja baru, juga mengurangi tindakan premanisme. “Dulu tingkat kriminal di daerah ini sangat tinggi,  disebabkan banyak pemuda yang menganggur,” ujar Hasan dengan hati lega.

    Untuk membuka usaha ini ternyata tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Cukup dengan menyediakan uang sebesar Rp 4 juta. “Modal dasar saya hanya Rp 4 juta, ini sudah termasuk sewa tempat,” demikian dikatakan Ardi. Yang termasuk agak sulit adalah mendapatkan bahan dasar, seperti plat kuningan dan fiber glasses. Bahan-bahan ini hanya ada di Jakarta. Sedangkan bahan pendukung lainnya banyak terdapat di luar kota.

    Sementara untuk produksi yang dihasilkan, rupa dan harganya beragam. Mulai dari yang murah hingga mahal tersedia. Untuk harga, penetapannya tergantung pada sejauh mana tingkat kesulitan pembuatan kerajinan ini. kadang mencapai jutaan rupiah. Misalnya pembuatan plakat dalam fiber kaca bening, harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta. Pasar sepi bagi pebisnis ini sama sekali tidak menjadi kendala, karena masing-masing pengrajin telah memiliki order langganan tetap tiap tahun.

    Selain pemasaran dalam kota, usaha ini juga telah merambah secara nasional bahkan internasional. Reklame Handicraft misalnya, usaha milik Beretta Hasan ini telah mempunyai kerjasama yang baik dengan Singapura, dalam rangka pendistribusian produk. “Pernah kita membuat produksi hingga 500 unit cenderamata ukiran terbuat dari kau yang di eksport ke negara Singapura,” ujar Hasan bangga. ****
Baca selengkapnya

Tuesday, September 20, 2016

Pejuang Papua di Angkot Jakarta

Filep Karma

Filep Karma mendapat remisi dari Presiden Jokowi. Sempat menolak beberapa kali namun akhirnya menerima remisi tersebut. Meski sudah keluar dari penjara, Karma tetap berjuang untuk Papua.

Oleh Rizky Ramadhan


SEORANG LELAKI MENATAP KE DEPAN. Sesekali ia melihat kendaraan yang lalu lalang. Beberapa angkot saling mendahului . Cuaca sore itu tidak terlalu panas, namun suhu pengap dalam angkot cukup membuat gerah. Keringat menetes dari keningnya.
“Bisa jadi kita sekarang ada yang ngintai,” katanya seperti berhati-hati.

Ia Filep Jacob Samuel Karma, kerap dipanggil Filep Karma. Pria kelahiran 1959 ini memiliki perawakan besar. Rambut panjangnya digulung dan diikat kecil mirip model rambut gimbal dengan beberapa bagian  memutih. Jenggot dan kumis yang lebat membuatnya tampak sangar. Sesekali ia tersenyum.

Katanya, sejak masih di Papua Karma seringkali diintai karena berjuang memerdekakan tanah kelahirannya. Ia dipandang orang Papua sebagai pejuang yang siap memberikan apa saja untuk aksi damai agar negerinya—Papua—merdeka. Ia pernah dipukul, ditembak dan berkali-kali dipenjara serta diancam dibunuh.

Sore itu saya berkesempatan satu angkot dengannya. Karma berasal dari keluarga terpandang di Papua. Ayahnya Andreas Karma, mantan bupati di Jayapura dan Wamena. Pada 1979, Karma kuliah di Universitas Sebelas Maret, Solo, mengambil jurusan Ilmu Politik. Lulus pada 1987 dan bekerja sebagai pegawai negeri di Jayapura.

Pada 1997, Karma mendapat beasiswa kuliah selama satu tahun di Asian Institute of Management, Manila. Ia kembali ke Jakarta pada bulan Mei setelah study di Manila. Saat itu Karma melihat aksi protes mahasiswa Universitas Trisakti terhadap pemerintahan Presiden Soeharto. Dua hari ia melihat aksi protes itu. “Saat itu ibu kota negara sedang bergejolak.”

Karma melepas masa lajangnya dengan menikahi Ratu Karel Lina, perempuan berdarah Melayu-Jawa asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Usia keduanya terpaut satu tahun. Mereka dikarunia dua orang putri.

TIBA-TIBA angkot yang kami tumpangi berhenti di perempatan lampu merah. Tiiiiiiiiiiit...tit…tit…tit... klakson bersahut-sahutan. Kendaraan roda dua melaju pelan di sela-sela mobil.

“Oh ya, jadi bagaimana ceritanya waktu bapak di penjara?”

Karma diam, kemudian tersenyum.

Filep Karma tengah bercerita pengalamannya.
Awal mulanya Filep Karma dipenjara pada 1998 atas tuduhan makar karena memimpin aksi dan pidato. “Sebelumnya saya juga ikut dalam aksi mengibarkan bendera bintang kejora.” Lambang bintang kejora merupakan bendera rakyat Papua merdeka. Saat ikut mengibarkan bendera bintang kejora, militer Indonesia mengambil alih Biak. Mendatangkan bantuan dari Ambon dan menembaki para pengunjuk rasa dari empat sisi. Jumlah korban tewas tidak diketahui pasti namun ia perkirakan sekitar seratus orang. Karma lalu dihukum penjara selama enam setengah tahun. Karma bebas demi hukum pada 20 November 1999. Karma kembali bekerja sebagai Pegawai Negeri di Papua.

Menjelang akhir tahun 2004, Karma menyiapkan sebuah upacara peringatan deklarasi kemerdekaan Papua. Peringatan ini pertama kali dilakukan pada 1 Desember 1961. Ia kembali  berpidato soal kebangsaan orang Papua. Karma katakan, orang Papua tidak selalu kulit hitam dan rambut keriting, banyak orang di luar Papua yang juga peduli pada Papua.

“Sebaliknya, banyak juga orang asli Papua, kulit hitam, rambut keriting, makan lebih banyak namun hatinya lebih Indonesia,” ujarnya pada pidato tersebut.

Karma kembali ditangkap oleh polisi. Diadili dan dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Abepura. Ia dihukum melanggar pasal 106 dan 110 KUHP tentang makar—suatu perbuatan dengan maksud seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian dari wilayah negara. Karma dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Filep Karma kembali berusaha melakukan banding ke Pengadilan Tinggi hingga kasasi ke Mahkamah Agung. Kali ini usahanya gagal.


ANGKOT MENEPI. Seorang pria muda masuk dan duduk di kursi dekat pintu lalu menyanyi. Hanya satu lagu, pria itu menyodorkan tangan. “Saya pikir dia mau bilang kalau dia baru keluar dari penjara,” ujar Karma sambil tertawa.

Karma teringat, ketika mengunjungi salah satu penjara ada seorang pemuda menghampirinya. Pemuda itu bilang kalau ia baru keluar dari penjara dan ingin meminta sedikit uang. “Saya juga baru keluar dari penjara,” timpalnya sambil memperilihatkan surat penahanan pada pemuda tersebut. Pemuda itu pun pergi.

Cerita mengenai kehidupannya di penjara tertuang dalam sebuah buku berjudul Seakan Kitorang Setengah Binatang. Selama dipenjara Karma diperlakukan secara tak manusiawi. Ia mengalami sakit dan sulit untuk berobat. Pernah Karma mengalami sakit di saluran kencing dan hendak berobat.

Karma harus bernegosiasi dan menunggu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan izin berobat ke Jakarta. Di sampaing itu negara tidak memberi bantuan biaya berobat padanya. Karma di bantu oleh aktivis, Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia serta  organisasi internasional yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia.

Ada juga pejuang di Papua yang secara suka rela membantu biaya pengobatannya. Parahnya lagi, petugas Lapas dan Polisi yang mengantarkan Karma berobat di Jakarta harus ditanggung biayanya.

Kurang lebih 11 tahun dipenjara, Karma di bebaskan pada November 2015 setelah mendapat remisi dari Presiden Jokowi. Mestinya ia baru bebas 2019 mendatang. Karma sempat menerima remisi beberapa kali. Namun menolaknya. Menurutnya, dengan menerima remisi tersebut berarti secara tidak langsung mengakui kesalahan sendiri. “Kalau saya menerima remisi itu berarti sama saja saya mengkriminalkan diri.” Pengacaranya lah yang memaksa dan membantunya untuk keluar dari penjara.

Sebenarnya Karma berencana untuk tinggal lebih lama di penjara. Alasannya untuk mendesak polisi menuntaskan kasus yang masih terjadi di Papua. Selain itu menurut Karma, tinggal di Lembaga Pemasyarakatan lebih aman. “Jika terjadi apa-apa sama saya, toh polisi harus bertanggung jawab. Mau tidak mau polisi harus menjaga saya.” Baginya, penjara bagai rumah sendiri.
   
Meski sudah keluar dari penajara, Karma merasa masih dalam penjara yang lebih luas dengan nama Indonesia. Ia menganggap, apa yang dialami Indonesia ketika dijajah Belanda, seperti itulah yang dirasakan oleh rakyat Papua sekarang.

“Tentu saya akan tetap berjuang, karena Papua belum merdeka,” tegasnya.


ANGKOT BERHENTI LAGI. Kali ini seorang pria tua yang masuk. Karma terus bercerita, sesekali mengusap jenggot dan membetulkan letak topi dengan lambang bendera Timor Leste. Karma  menggunakan seragam PNS cokelat dengan lambang bintang kejora di dadanya serta sepatu berwarna putih.

“Kalau setelan baju ini, karena saya memang pegawai negeri. Sedangkan bendera bintang kejora menandakan identitas seorang Papua,” ujar Karma.

“Kenapa topi lambangnya Timor Leste?”

“Ya, biar pihak polisi semakin kesal,” sahut Karma dengan tawa. Karma terkesan dengan perjuangan bangsa Timor Leste yang berhasil memerdekakan diri dari Indonesia.

Untuk terkahir kalinya angkot berhenti. Kami berpisah di perempatan jalan Letjend S. Parman dan Palmerah. Saya mengakhiri bincang-bincang sore itu dengan melihat senyum Karma kembali.#
Baca selengkapnya

Thursday, September 8, 2016

Pohon dan Dia

Pohon di depan Planetarium TIM


Buk! Buk! Buk!

Suara dari beberapa dahan yang jatuh ke tanah. Seorang pria paruh baya, Adi namanya, memotong dahan pohon yang kelihatannya sudah tua. Di bawahnya ada dua orang lain. Seorang berseragam sekuriti sambil membawa tambang kuning berukuran sedang, seorang lagi dengan seragam oranye yang hanya memandang dari bawah sembari menghisap sebatang rokok.

Adi yang sejak tadi berdiri diatas tangga lipat berpindah ke dahan yang sedikit lebih besar. Sejenak ia merenggangkan kaki. Duduk, berdiri, duduk, berdiri lagi. Salah satu dahan yang terdekat coba diraihnya.

"Yang itu, itu tuh," tunjuk sekuriti ke salah satu dahan.
"Yang ini?"
"Iya."

Prtaaaaang...!!! 

Suaranya lebih besar dibanding yang pertama. Dahan dengan diameter seperti botol Aqua ukuran 1500 ml mengenai tugu nama setinggi satu meter. Tugu ini terbuat dari semen dilapisi keramik hitam dan seng dibagian atasnya. Pada bagian depan bertuliskan Planetarium Jakarta.

Siang itu, terik matahari cukup panas. Angin sesekali berhembus menggoyang ranting kecil pohon tempat Adi berada. Mobil dan motor lalu lalang melintasi jalan di depan planetarium. Pria dengan setelan jas lengkap, beberapa keluarga, gerombolan anak sekolahan, dan mahasiswa juga melintas. Gedung Planetarium yang berwarna biru dengan atap berbentuk setengah bola warna putih terlihat sepi pengunjung. “Karena lagi ada perbaikan mas,” jawab sekuritinya.


Suara gaduh datang dari bangunan baru jauh di belakang gedung planetarium berbaur dengan suara mesin kendaraan. Kicau burung gereja di pepohonan samar terdengar. Seekor kucing hitam tengah berjemur di dekat pagar planetarium.  Di dekat gedung planetarium ada bangunan kecil ukuran tiga kali tiga meter dengan gaya keraton, atapnya dari asbes merah bata sedang dindingnya dari tembok bercat putih dan kayu cokelat. Di seberang sekitar lima puluh meter berjejer motor segala merek diparkiran. Di dekat parkiran asap putih mengepul dari salah satu deretan warung makan. Aromanya semerbak terbawa angin. 

Bercampur dengan bau busuk dari tong sampah.

Adi saat itu gunakan kemeja abu-abu lengan pendek, celana selutut, topi cokelat dan sepatu hitam kusam. Cahaya matahari memantul dari cincin akik di jari manis tangan kirinya. Sekuriti yang dibawah melempar tali. Adi kemudian mengikat ke batang pohon yang besar. Setelah cukup yakin dengan ikatannya, Adi melemparkan tali satunya lagi ke bawah. Tali dipegang sekuriti sambil bersiap menarik, sementara di atas Adi memilah mana bagian yang harus dipotong.
 

“Yang bawah aja. Bawahnya lagi,” panggil sekuriti di bawah.
 

Adi pun mengikuti saran yang dibawah. Secara perlahan ia memotong batang besar itu dengan parang. Ia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memotongnya. Sembari Adi memotong, si sekuriti menarik batang dengan tali agar tidak kena gedung.

Prtaaaaang...!!! 


Suara yang lebih besar dibanding yang sebelumnya.
Merasa pekerjaannya tinggal sedikit, ia pun hendak istirahat dibawah. Kaki kanannya perlahan mencari tapakan di tangga. Saat kaki kirinya mulai memijak, tangga lipat itu tiba-tiba saja jatuh. Sontak Adi yang masih menggantung di pohon terkejut. Bagian tangannnya masih menggantung sementara bagian kaki bergerak kesana kemari menendang angin. Cemas dan panas membuat peluh kian membasahi bajunya.
Melihat temannya sedang dalam bahaya, dua orang di bawah sontak berlari mendekat dan mencoba mendirikan tangga yang terjatuh. Setelah tangga terpasang, Adi perlahan turun dengan menyisakan beberapa pekerjaan yang masih tanggung.
 

Pohon tua itu kini gundul, hanya tersisa tiga dahan yang masih tersisa. Angin kembali berhembus menerpa dedaunannya.
Baca selengkapnya