 |
| Beberapa arca yang jadi koleksi Abdul Latif |
Kediaman pribadi dijadikan museum. Banyak benda sejarah yang dikoleksi. Semuanya diperoleh dengan uang pribadi.
Oleh Rizky Ramadhan
PAGAR COKELAT yang sudah berkarat itu tampak terbuka. Pekarangannya dipenuhi berbagai macam tumbuhan. Sebuah kolam dengan air yang menghijau terlihat depan pintu masuk. Jembatan dibuat di atas kolam untuk melintas.
Rumah itu cukup besar dengan warna jingga di bagian luar. Di teras, beberapa tiang sepelukan orang dewasa jadi penyangga. Jendela, pintu dan kursi terbuat dari kayu. Dominasi warna bagian dalam rumah berubah jadi hijau dengan plafon cokelat. Sebelah kanan pintu ada cermin besar berukir. Di atasnya foto sepasang suami istri.
 |
| Rumah Abdul Latif yang dijadikan museum pribadi |
Di sepanjang ruang tamu, beberapa foto serta lukisan terpajang. Sang empunya rumah memang memiliki hobi melukis. Aroma masakan sesekali tercium. Maklum, sang pemilik rumah sedang memasak.
Seorang pria berbusana muslim merah tua menghampiri. Rambut dan kumisnya telah memutih, menandakan umurnya tak lagi muda. Di jarinya terikat dua buah cincin batu akik.
Ia, Abdul Latif Hasyim. Bergelar Datuk Bagindo, Kepala Suku Melayu Bendang Kenegerian Kuok, Bangkinang .
Latif seorang guru yang memiliki banyak prestasi akademik baik tingkat provinsi, nasional ataupun internasional. Mulai dari mahasiswa teladan Riau, guru teladan tingkat nasional, kepala sekolah teladan di Canada hingga kepala sekolah terbaik pada penghargaan Asean Education Award.
Tak hanya akademis, Latif juga memiliki banyak penghargaan atas keterlibatannya dalam seni dan budaya. Latif sering meneliti tentang kebudayaan Melayu dan benda bersejarah. Banyak benda sejarah peninggalan orang-orang terdahulu yang disimpan.
Latif bercerita tentang masa kecilnya yang sering bermain di rumah soko bendang milik neneknya, di Kuok. Mulai dari ruang tamu hingga loteng rumah banyak ditemukannya barang antik. Namun saat itu, Latif belum mengerti nilai dari benda-benda tersebut. Bila musim layang-layang tiba, Latif bersama temannya justru memecahkan benda-benda itu. Lalu, serpihan kacanya digiling hingga halus jadi bubuk untuk digilas dengan benang layang. “Kalau ketahuan, orang tua negur tapi gak diceritakan sejarah tentang benda itu,” kenang Latif.
Kesadaran Latif akan nilai benda sejarah sejak menempuh pendidikan menengah atas. Hasrat untuk menjaga benda-benda langka pun terus tumbuh dalam dirinya ketika berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Riau. “Kadang benda-benda itu banyak yang diperjual belikan,” kata Latif.
Latif dan keluarganya kerap berkunjung ke Malaysia. Kadang tiga kali dalam satu tahun. Di Malaysia, Latif selalu menyempatkan untuk ke museum. Benda-benda yang ia lihat di museum ini tidak jauh beda dengan apa yang ada di daerah kampar. Seperti keris, tumbuk lada, piring, gong, musik dan pakaian.
Ada juga mata uang emas dari aceh dan juga arsip buku kuno dari Kepulauan Riau. Latif yakin bahwa, benda-benda itu memang dari daerah kampar. Latif merasa, apa yang pernah dilihatnya semasa kecil terbuang begitu saja tanpa dirawat. Berbeda dengan yang dilihatnya di negeri jiran.
Latif semakin tergerak untuk melindungi benda-benda sejarah yang ada di daerah kelahirannya. Ditambah lagi, dari kunjungannya ke berbagi museum yang ada di negeri sendiri, Latif menilai pemerintah kurang perhatian. “Disinilah saya berinisiatif, setidaknya benda milik keluarga harus saya selamatkan.”
Berangsur-angsur, Latif mengumpulkan benda-benda tua milik keluarganya di rumah soko bendang di Kuok dan dipindahkan ke rumahnya. Ada perkakas rumah tangga, piring, keris, parang, guci, buku dan ukiran lama.
Setelah menikah, koleksi benda bersejarahnya semakin bertambah. Mertua, sanak saudara hingga tetangga ikut membantu Latif mengumpulkan benda-benda tersebut.
Kini, benda kuno yang Latif simpan totalnya sekitar empat ratus lebih dari beberapa jenis benda. Latif tak membuat rincian nama bendanya, namun ia mengkategorikan jenis benda pada satu tempat penyimpanan.
 |
| Keris koleksi Abdul Latif |
Keris disimpan dalam koper di gudang sebelah kanan ruang makan. Bermacam bentuk dan motif keris tersimpan. Bahkan menurutnya, ada keris dari masa Kerajaan Majapahit.
Di seberangnya ada ruang kecil tempat menyimpan jenis parang, tombak dan pedang. Adapula meriam kecil dengan motif pucuk rebung, salah satu motif khas melayu. Sebelah ruang kecil itu ada satu ruangan dengan peti kayu berisi teko, perkakas rumah tangga, setrika besi dan kendi. Benda di dalam peti sudah dibungkus koran, “Agar tak cepat rusak,” jelas Latif.
Didekat peti ada beberapa guci keramik, sebagian sudah pecah sedang yang lain masih utuh. Mulai dari kecil hingga besar, berbagai warna dan motif.
Berjalan sedikit ke belakang, lalu belok kanan, ada sebuah gudang dengan dinding kusam. Dalam gudang ini terdapat lemari besar di sisi kanan dan kiri. Di sudut ruangan ada peti kayu. Di dinding atas peti melekat dua lukisan Sukarno. Yang satu tengah duduk sedang satunya berdiri.
Dalam peti itu sendiri berisi perkakas rumah tangga. Beberapa diantaranya baru dibeli Latif. “Karena tak ada tempat penyimpanan makanya dicampur,” ujar Latif. Di ruang ini, ada tangga menuju lantai dua. Dibawah tangga terdapat banyak arca batu yang tersusun. Ada dewa–dewa dalam agama Hindu, Budha serta batu yang di ukir pada zaman megalitikum.
Naik ke lantai dua, terlihat angklung menempel di tembok dekat tangga. Masuk ke ruangan sebelah kiri ada piring dari zaman dinasti China, guci, lukisan serta buku tua bertumpuk. Kami tidak dapat masuk kedalam karena di lantai penyusunannya masih berantakan. Kata Latif, ruangan tersebut tengah direnovasi.
Benda kuno yang disimpan Latif belum pernah diuji di laboratorium. Latif tak punya dana untuk mendatangkan peneliti dari pusat. “Pun di Riau tidak ada yang bisa mengujinya,” ujar Latif.
Namun, benda miliknya pernah diperlihatkan pada peneliti Malaysia. Mereka membandingkan benda milik Latif dengan benda dari luar negri yang sejenis. Misal, keramik milik Latif dibandingkan dengan keramik di China dan Eropa. Dengan bahan pembuatan yang sama, motif dan struktur juga sama. Namun mereka katakan, benda milik Latif lebih tua.
Semakin banyaknya koleksi benda tua di rumah, Latif mulai mendaftarkan rumahnya untuk dijadikan museum. Itu dilakukan mulai 4 juli 2008. Usaha Latif tak serta merta terwujud meski berulangkali ia melapor ke Dinas Pelestarian Sejarah di Jakarta. Berbagai dokumen sebagai persyaratan seperti, foto benda, CV dan proposal ia siapkan.
Pemerintah pusat kemudian menanggapi, untuk izin pendirian museum cukup lewat pemerintah daerah. Dengan syarat, harus punya yayasan atau lembaga yang menaungi.
Latif memiliki yayasan Darul Amal yang berdiri sejak 1991. Yayasan ini milik ibu nya. Pernah mendirikan masjid dan sekolah di Kuok.
Setelah itu, Latif diminta untuk berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata untuk pendataan benda-benda miliknya. Dinas Pariwisata kemudian meminta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Batusangkar, untuk datang ke rumah Latif dan mengecek benda-benda tersebut.
Kurang lebih satu minggu, tim BP3 melakukan pengukuran benda, membuat spesifikasi dan klarifikasi zamannya. Sebagian yang sudah divalidasi kemudian diberi nomor. Ada kode yang dibuat, namun Latif tak tahu artinya. “Mereka pun tidak menceritakan artinya,” ketus Latif.
BURHANUDDIN, mantan Bupati Kampar dan Latif pernah bertemu untuk diskusi terkait benda bersejarah. “Begitu dia tahu saya peneliti, setiap ada yang berhubungan dengan sejarah dia nelfon saya langsung,” kenang Latif. Bahkan ketika ada seminar tentang budaya di luar daerah, Latif selalu diundang.
Saat masih menjabat, Burhanuddin pernah berencana untuk membangun museum. Latif diminta untuk mengisi. “Pernah dua kali diminta. Tahun 2010 dan 2011. Tapi saya tidak mau,” kenangnya. Menurutnya, jika nanti barang hilang tak ada yang mau tanggungjawab.
“Nanti kalau diserahkan ke Pemda, habis masa jabatan dia diganti, disangka milik Pemda, bahaya kan?”
Untuk mengumpulkan benda-benda tua itu, Latif harus mengeluarkan dana pribadi. Uangnya diperoleh dari hasil menjual barang-barang pribadi miliknya, melelang lukisan karyanya, pembuatan kendaraan hias, pameran dan lain sebagainya. “Asal ada dana saya turun ke lokasi. Masuk goa, hutan dan tempat lainnya,” tutur Latif.
Latif berkeliling mulai dari Kuok, 13 Koto Kampar, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Siak, Natuna, Kalimantan, Jawa dan Bali. “Yang belum pernah itu Indonesia bagian timur dan aceh.”
Menurut Latif, Pemerintah Daerah tidak menaruh perhatian lebih ke sektor tersebut. “Bayangkan, saya sendiri bisa menyelamatkan hingga 400 benda. Kalaulah kompak Pemda mencari pasti bisa sampai ribuan,” saran Latif.
Jefri Al Malay sependapat dengan Latif. “Alangkah baiknya, pemerintah membantu melestarikan benda peninggalan sejarah yang ada.”
Jefri seorang sastrawan Riau. Juga sebagai asisten dosen Fakultas Ilmu Budaya—FIB— Universitas Lancang Kuning. Kesehariannya, Jefri juga bekerja sebagai wartawan di Riau Pos. Menulis seni dan budaya melayu di rubrik Ranggi, mingguan. Tulisan Jeffri tentang museum Latif pernah terbit di rubrik ini.
Setelah perkenalannya, Jefri bersama Dr. Junaidi, Dekan FIB membantu Latif untuk menyusun benda-benda miliknya terutama manuskrip ke dalam katalog.
Saranan, Kasi Sejarah dan Konservasi Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kampar mengatakan, pemerintah sudah melakukan upaya penanganan benda bersejarah. Seperti pendataan benda kuno yang dimiliki penduduk di tiap kecamatan di Kabupaten Kampar.
“Kami tidak bisa menarik atau meminta benda tersebut karena itu benda turun-temurun milik keluarga. Pun, Pemerintah Kampar belum punya museum untuk menyimpannya,” jelas Saranan.
Saat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berada dalam satu institusi, Pemerintah Kabupaten Kampar pernah mengajukan usulan pembangunan museum ke Pemerintah Pusat. Hingga kini usulan tersebut belum juga terkabul. “Padahal untuk lahan kita ada. Namun dana jadi alasan tak terselesainya rencana ini.”
Latif cerita, 80 persen benda di rumahnya sebagian besar didapat di daerah Kampar. Sisanya dari daerah Bengkalis, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Maluku.
Seringnya Latif meneliti budaya membuat warga tahu bahwa ia juga menyimpan benda bersejarah. Dari sinilah beberapa orang datang untuk mengantar benda padanya.
Kata Latif, orang yang mengantar benda ke rumahnya punya alasan beragam. Ada yang datang karena butuh biaya, takut benda tersebut membawa bala, namun adapula yang takut ditangkap aparat karena menyimpan benda langka.
Ada juga warga yang menitipkan benda atas dasar kepercayaan, kalau benda itu disimpan pasti tak selamat. Makanya diberikan ke Latif dengan imbalan ganti rugi. Pun, ketika orang itu suatu waktu datang kembali untuk melihat benda, masih ada.
Bila ada yang mengantar benda ke rumah, Latif selalu bertanya asal usul benda tersebut. Hal ini untuk mengetahui sumber benda dan membuat ringkasan cerita mengenai benda tersebut. Namun ada yang malah takut ketika ditanya dan tidak datang lagi. “Mungkin dikiranya kita mau nangkap.”
Asnin, pemuda yang sering membantu Latif meneliti benda bersejarah mengatakan, orang yang menemukan benda bersejarah ini secara hukum tidak terlindungi karena mereka merasa mudah dikriminalisasi. “Itu yang menyebabkan barang itu tidak muncul di permukaan. Padahal benda itu banyak.”
Asnin sempat mendengar, seseorang dari Kuok menemukan meriam. Meriam tersebut dibawa ke rumah untuk disimpan. Lalu, datang aparat sambil bawa pistol. “Terpaksa diserahkan dan akhirnya dijual.”
Saranan mengungkapkan, bagi masyarakat yang mengantar benda ke pemerintah akan diberi reward seperti penggantian harga atas barang tersebut. “Namun sampai saat ini belum ada masyarakat yang melakukannya.”
LATIF berdiri, kemudian beranjak menuju ruangan lain. Sekembalinya ia membawa bungkusan plastik. “Ini fosil kerang laut,” tunjuknya ke beberapa kerang yang sudah membatu. Kerang ini didapat di daerah Kuok berkat informasi dari masyarakat.
Tak hanya kerang, Latif juga menemukan dayung yang sudah membatu. Selain itu, Latif dan tim pernah melakukan penggalian sedalam 65 meter. Disana ditemukan air dengan kadar garam yang tinggi. Air itu kemudian Latif bawa dan disimpan dalam wadah tertutup dirumahnya.
Tak hanya fosil kerang, Latif juga menunjukkan fosil telur yang berukuran cukup besar. Ada tiga fosil yang diperlihatkannya. Satu masih utuh dengan bentuk bulat telur, sedang dua lagi sudah pecah. Bagian dalam yang sudah pecah terlihat warna kuning seperti kuning telur.
Sekilas memang tampak seperti batu biasa, namun ukuran dan juga bentuk serta bagian dalam tampak berbeda. “Apalagi tak hanya tiga ini yang kami lihat disana, tapi ada banyak dan daerah sana bukan daerah berbatu,” ujar Latif.
Abdul Latif Hasyim tetap akan menyimpan benda bersejarah yang ada dirumahnya. Ia tak akan menjual walau sebarang pun. Karena menurutnya, benda itu haruslah dijaga. Laki-laki yang pernah meraih Asean Education Award pada 2011 sebagai kepala sekolah terbaik ini, berharap akan timbulnya kesadaran di masyarakat arti pentingnya sejarah.*