Review Film Surat dari Praha
Baiklah ini merupakan review film saya yang pertama. yang hendak saya review adalah film indonesia berjudul Surat Dari Praha. Peringatan, bagi yang belum menonton film ini dan berencana menontonnya, tulisan saya mengandung spoiler berlebihan. Namanya saja review.
Surat Dari Praha adalah sebuah film Indonesia tahun 2016 yang menjadi karya ketujuh Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara. Film yang dibintangi oleh Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto terinspirasi dari kisah kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa kembali akibat perubahan situasi politik Indonesia tahun 1966 pasca Gerakan 30 September dan karya musik Glenn Fredly sebagai elemen utama cerita. [Wikipedia, 2016]
Pada masa perang dingin, perseteruan blok barat dan blok timur menempatkan Indonesia pada persimpangan. Tahun 1965 terjadi pergolakan ppolitik paling berdarah sepanjang sejarah Indonesia. Orang-orang yang dianggap berhaluan kiri dan mendukung presiden Soekarno disingkirkan. Ratusan Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid) yang dikirim Presiden Soekarno ke Praha, Cekoslovakia dipaksa mengakui pemerintahan baru yang menamai dirinya Orde Baru.
Beberapa kalimat yang muncul di awal film. Menjelaskan latar belakang singkat mengenai alur film tersebut.
Gambar kemudian beralih ke salah satu rumah sakit. Seorang wanita tua tengah terbaring, seorang wanita lagi tengah berdiri didekat jendela tak jauh dari wanita yang berbaring. Mereka Sulastri dan Larasati, ibu dan anak. Tak ada ayah Laras di situ, karena memang sudah tiada sejak ia kecil. Laras menemui ibunya hendak meminjam sertifikat rumah milik ibunya, itu dilakukan untuk membiayai rencana perceraian laras dengan suaminya. Terjadi perdebatan kecil diantara mereka, laras kemudian turun untuk menemui pengacara. Sekembalinya ia ke atas, sang ibu sudah tidak di ruangan. Ia dipindahkan ke ruang operasi. Kemudian di ketahui bahwa ibunya telah tiada.
Laras yang hendak meminta rumah kemudian keukeuh meminta tolong kepada notaris ibunya untuk segera membaca surat wasiat, walaupun itu sehari setelah pemakaman ibunya. Notaris kemudian membacakan wasiat, isinya rumah dan seluruh isinya diberikan kepada ahli waris, Laras. Namun syaratnya ia harus mengirimkan sebuah kotak dan sepucuk surat kepada orang yang beralamat di surat tersebut serta harus mendapatkan tanda tangan dari penerima surat sebagai bukti. Praha, jadi tujuan.
Scene beralih ke seorang laki-laki di suatu kota nan jauh dari Indonesia, Praha. Disini sutradara ingin menggambarkan kehidupan seorang laki-laki tua yang menjadi tujuan surat dari ibu laras. Mahdi Jayasri namanya, biasa dipanggil Jaya.
Laras kemudian datang ke rumah Jaya. Di awal pertemuan mereka sudah terjadi percekcokan. Jaya tak ingin menerima kotak dan surat yang diantar Laras. Kemudian Laras diusir dan disuruh pergi dari rumah Jaya. Laras yang tak tahu apa – apa mengenai isi kotak, siapa Jaya, apa hubungannya dengan keluarganya kemudian pergi.
Di kota yang baru ia datangi, Laras mendapat kemalangan. Ia kemudian dirampok oleh taksi yang ia tumpangi, dan itu menyebabkan dia harus kehilangan harta benda. Hanya kotak dan surat yang dititipkan ibunya yang tersisa. Tak ada cara lain, laras memilih kembali ke rumah Jaya.
Di lain tempat jaya merasa frustasi karena ia tahu bahwa Sulastri, sang pengirim surat yang tak lain ibu laras sudah tiada. Jaya kemudian minum-minum di bar, ditemani seorang pemuda Indonesia juga. Diketahui bahwa Jaya merupakan sarjana nuklir.
Jaya yang kemudian menemukan Laras di depan pintu rumahnya akhirnya membawanya masuk. Laras diizinkan menginap. Sehari kemudian Jaya membawa Laras ke Kedutaan Besar Indonesia. Laras yang tak memiliki tempat menginap sampai seluruh berkas-berkasnya selesai akhirnya kembali menginap ke rumah Jaya.
Mulai dari sini konflik diantara mereka berdua semakin dalam. Laras terus berusaha menggali hubungan Jaya dengan ibunya, sedangkan Jaya keukeuh menolak bercerita.
Laras kemudian membuka isi kotak tersebut, didapatlah tumpukan surat yang dikirim Jaya untuk ibunya. Laras akhirnya tahu bahwa sebelas tahun setelah ibunya menikah, Jaya mengirimkan surat. Terlambat memang jika mengetahui bahwa hubungan keduanya jauh sebelum ibu Laras menikah. Jaya yang saat itu disekolahkan di Praha tak bisa kembali ke Indonesia saat terjadi pergolakan dan pemerintahan berganti ke tangan Soeharto.
Laras menyudutkan Jaya sebagai perusak hubungan ibunya dan ayahnya, dan sebagai penyebab ayahnya meninggal. Sedang Jaya merasa itu bukan salahnya. Jaya terus dan terus mengirimkan surat selama 2 tahun karena ia tak pernah mendapat satu balasan suratpun dari Lastri. Kemudian Jaya memutuskan untuk tidak mengirimkan surat lagi dengan satu surat terakhir yang berisi bahwa ia yakin suratnya tak pernah sampai. Saat itu Lastri yang sudah berkeluarga tak ingin membalas surat Jaya.
Cerita dalam film ini mengalir lambat. Lagu-lagu Glen Fredly jadi back sound cerita. Secara keseluruhan film ini menggambarkan usaha Laras untuk mencari tahu hubungan antara Jaya dan ibunya.
Saya kurang menyukai sifat Laras yang keras kepala, terutama saat ia keukeuh ingin meminjam sertifikat rumah ibunya dan lagi saat sehari setelah ibunya meninggal laras malah meminta surat warisan. Namun sifat Laras yang berani dan pantang menyerah cukup saya sukai. Kalau menurut saya Jaya bersifat peduli namun tak ingin ia tampakkan, dan keras kepala tentunya.
Beberapa pemeran lain ialah Lastri, Dewa, Loretta dan beberapa kawan Jaya yang sudah tua tentunya yang sama-sama kuliah bersamanya dulu.
Kelebihan dari film ini adalah alurnya yang sederhana yang membuat orang menikmati ceritanya. Bumbu konflik yang tidak terlalu kuat, dan iringan musik yang diputar hampir diseluruh bagian film. Entah itu permainan piano, harmonika, senandung ataupun mini konser.
Namun kekurangan film ini menurut saya adalah cerita yang sedikit monoton. Saya berekspetasi bahwa dalam film ini akan dikilas balik mengenai kerasnya hidup Jaya setelah Soekarno lengser, bagaimana ia susah menjalani hidup di Praha, bagaimana ia dikucilkan, bagaimana ia tak dapat kembali ke tanah air, bagaimana hubungannya dengan Lastri, dan masih banyak latar belakang yang ingin saya dapatkan melakui penokohan langsung. Namun yang ada hanya cerita, Jaya hanya menceritakan kisah tersebut melalui ucapan.
Secara keseluruhan film ini cukum menarik untuk ditonton, sedikit menggambarkan kisah masa lalu. Apalagi bagi penggemar film sejarah, ya meskipun disini bukan segi sejarah yang ditonjolkan melainkan sisi romantisme.
Namun ada satu yang mengganjal di hati saya, jelang akhir film saya mendapati hubungan antara Jaya dan Laras semakin dekat, hubungan yang mengarah ke arah dua orang saling menyukai. Bahkan adegan ketika mereka berdua bermain piano bersama menggambarkan kemesraan. Dan ketika scene beralih ke mereka berdua tengah berpelukan di atas sofa membuat saya cukup berfikir berulang kali mengenai mereka berdua. Apakah yang hendak ditampilkan disini? Kedekatan antar orang tua dan anak yang terjalin walaupun mereka tak sedarah? Atau hubungan antar pria dan wanita? Entahlah.
Yah, meskipun demikian saya cukup mengapresiasi film ini. Menurut penilaian saya, dari 10 poin saya memberi nila 7 untuk film ini.
Selamat menonton bagi yang belum, dan selamat berbagi cerita di bawah bagi yang sudah menonton. Salam.





