Monday, December 26, 2016

Review Film Surat dari Praha


Baiklah ini merupakan review film saya yang pertama. yang hendak saya review adalah film indonesia berjudul Surat Dari Praha. Peringatan, bagi yang belum menonton film ini dan berencana menontonnya, tulisan saya mengandung spoiler berlebihan. Namanya saja review.

Surat Dari Praha adalah sebuah film Indonesia tahun 2016 yang menjadi karya ketujuh Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara. Film yang dibintangi oleh Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto terinspirasi dari kisah kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa kembali akibat perubahan situasi politik Indonesia tahun 1966 pasca Gerakan 30 September dan karya musik Glenn Fredly sebagai elemen utama cerita. [Wikipedia, 2016]

Pada masa perang dingin, perseteruan blok barat dan blok timur menempatkan Indonesia pada persimpangan. Tahun 1965 terjadi pergolakan ppolitik paling berdarah sepanjang sejarah Indonesia. Orang-orang yang dianggap berhaluan kiri dan mendukung presiden Soekarno disingkirkan. Ratusan Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid) yang dikirim Presiden Soekarno ke Praha, Cekoslovakia dipaksa mengakui pemerintahan baru yang menamai dirinya Orde Baru.
Beberapa kalimat yang muncul di awal film. Menjelaskan latar belakang singkat mengenai alur film tersebut.

Gambar kemudian beralih ke salah satu rumah sakit. Seorang wanita tua tengah terbaring, seorang wanita lagi tengah berdiri didekat jendela tak jauh dari wanita yang berbaring. Mereka Sulastri dan Larasati, ibu dan anak. Tak ada ayah Laras di situ, karena memang sudah tiada sejak ia kecil. Laras menemui ibunya hendak meminjam sertifikat rumah milik ibunya, itu dilakukan untuk membiayai rencana perceraian laras dengan suaminya. Terjadi perdebatan kecil diantara mereka, laras kemudian turun untuk menemui pengacara. Sekembalinya ia ke atas, sang ibu sudah tidak di ruangan. Ia dipindahkan ke ruang operasi. Kemudian di ketahui bahwa ibunya telah tiada.



Laras yang hendak meminta rumah kemudian keukeuh meminta tolong kepada notaris ibunya untuk segera membaca surat wasiat, walaupun itu sehari setelah pemakaman ibunya. Notaris kemudian membacakan wasiat, isinya rumah dan seluruh isinya diberikan kepada ahli waris, Laras. Namun syaratnya ia harus mengirimkan sebuah kotak dan sepucuk surat kepada orang yang beralamat di surat tersebut serta harus mendapatkan tanda tangan dari penerima surat sebagai bukti. Praha, jadi tujuan.

Scene beralih ke seorang laki-laki di suatu kota nan jauh dari Indonesia, Praha. Disini sutradara ingin menggambarkan kehidupan seorang laki-laki tua yang menjadi tujuan surat dari ibu laras. Mahdi Jayasri namanya, biasa dipanggil Jaya.

Laras kemudian datang ke rumah Jaya. Di awal pertemuan mereka sudah terjadi percekcokan. Jaya tak ingin menerima kotak dan surat yang diantar Laras. Kemudian Laras diusir dan disuruh pergi dari rumah Jaya. Laras yang tak tahu apa – apa mengenai isi kotak, siapa Jaya, apa hubungannya dengan keluarganya kemudian pergi.

Di kota yang baru ia datangi, Laras mendapat kemalangan. Ia kemudian dirampok oleh taksi yang ia tumpangi, dan itu menyebabkan dia harus kehilangan harta benda. Hanya kotak dan surat yang dititipkan ibunya yang tersisa. Tak ada cara lain, laras memilih kembali ke rumah Jaya.

Di lain tempat jaya merasa frustasi karena ia tahu bahwa Sulastri, sang pengirim surat yang tak lain ibu laras sudah tiada. Jaya kemudian minum-minum di bar, ditemani seorang pemuda Indonesia juga. Diketahui bahwa Jaya merupakan sarjana nuklir.


Jaya yang kemudian menemukan Laras di depan pintu rumahnya akhirnya membawanya masuk. Laras diizinkan menginap. Sehari kemudian Jaya membawa Laras ke Kedutaan Besar Indonesia. Laras yang tak memiliki tempat menginap sampai seluruh berkas-berkasnya selesai akhirnya kembali menginap ke rumah Jaya.

Mulai dari sini konflik diantara mereka berdua semakin dalam. Laras terus berusaha menggali hubungan Jaya dengan ibunya, sedangkan Jaya keukeuh menolak bercerita.

Laras kemudian membuka isi kotak tersebut, didapatlah tumpukan surat yang dikirim Jaya untuk ibunya. Laras akhirnya tahu bahwa sebelas tahun setelah ibunya menikah, Jaya mengirimkan surat. Terlambat memang jika mengetahui bahwa hubungan keduanya jauh sebelum ibu Laras menikah. Jaya yang saat itu disekolahkan di Praha tak bisa kembali ke Indonesia saat terjadi pergolakan dan pemerintahan berganti ke tangan Soeharto.

Laras menyudutkan Jaya sebagai perusak hubungan ibunya dan ayahnya, dan sebagai penyebab ayahnya meninggal. Sedang Jaya merasa itu bukan salahnya. Jaya terus dan terus mengirimkan surat selama 2 tahun karena ia tak pernah mendapat satu balasan suratpun dari Lastri. Kemudian Jaya memutuskan untuk tidak mengirimkan surat lagi dengan satu surat terakhir yang berisi bahwa ia yakin suratnya tak pernah sampai. Saat itu Lastri yang sudah berkeluarga tak ingin membalas surat Jaya.


Cerita dalam film ini mengalir lambat. Lagu-lagu Glen Fredly jadi back sound cerita. Secara keseluruhan film ini menggambarkan usaha Laras untuk mencari tahu hubungan antara Jaya dan ibunya.

Saya kurang menyukai sifat Laras yang keras kepala, terutama saat ia keukeuh ingin meminjam sertifikat rumah ibunya dan lagi saat sehari setelah ibunya meninggal laras malah meminta surat warisan. Namun sifat Laras yang berani dan pantang menyerah cukup saya sukai. Kalau menurut saya Jaya bersifat peduli namun tak ingin ia tampakkan, dan keras kepala tentunya.

Beberapa pemeran lain ialah Lastri, Dewa, Loretta dan beberapa kawan Jaya yang sudah tua tentunya yang sama-sama kuliah bersamanya dulu.

Kelebihan dari film ini adalah alurnya yang sederhana yang membuat orang menikmati ceritanya. Bumbu konflik yang tidak terlalu kuat, dan iringan musik yang diputar hampir diseluruh bagian film. Entah itu permainan piano, harmonika, senandung ataupun mini konser.

Namun kekurangan film ini menurut saya adalah cerita yang sedikit monoton. Saya berekspetasi bahwa dalam film ini akan dikilas balik mengenai kerasnya hidup Jaya setelah Soekarno lengser, bagaimana ia susah menjalani hidup di Praha, bagaimana ia dikucilkan, bagaimana ia tak dapat kembali ke tanah air, bagaimana hubungannya dengan Lastri, dan masih banyak latar belakang yang ingin saya dapatkan melakui penokohan langsung. Namun yang ada hanya cerita, Jaya hanya menceritakan kisah tersebut melalui ucapan.

Secara keseluruhan film ini cukum menarik untuk ditonton, sedikit menggambarkan kisah masa lalu. Apalagi bagi penggemar film sejarah, ya meskipun disini bukan segi sejarah yang ditonjolkan melainkan sisi romantisme.

Namun ada satu yang mengganjal di hati saya, jelang akhir film saya mendapati hubungan antara Jaya dan Laras semakin dekat, hubungan yang mengarah ke arah dua orang saling menyukai. Bahkan adegan ketika mereka berdua bermain piano bersama menggambarkan kemesraan. Dan ketika scene beralih ke mereka berdua tengah berpelukan di atas sofa membuat saya cukup berfikir berulang kali mengenai mereka berdua. Apakah yang hendak ditampilkan disini? Kedekatan antar orang tua dan anak yang terjalin walaupun mereka tak sedarah? Atau hubungan antar pria dan wanita? Entahlah.



Yah, meskipun demikian saya cukup mengapresiasi film ini. Menurut penilaian saya, dari 10 poin saya memberi nila 7 untuk film ini.

Selamat menonton bagi yang belum, dan selamat berbagi cerita di bawah bagi yang sudah menonton. Salam.
Baca selengkapnya

Monday, December 19, 2016

Cerita Akhir Seorang Penyair


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : Lawan!

Syair itu penggalan puisi Wiji Thukul. Ia buat pada 1986. Judulnya Peringatan. Selalu didengungkan saat orasi hingga kini.

Wiji Thukul lahir dengan nama Wiji Widodo, di Solo 26 Agustus 1963. Ia lahir dari keluarga penarik becak. Keluarganya seorang Katolik. Sejak kecil setiap ahad pagi ia selalu mengajak adiknya sembahyang di Kapel Sorogenen. Saat itu ia aktif menjadi anggota kos kapel. Ia sering membawa novel serial silat karangan Asmaraman Sukowati, Koo Ping Hoo. Selain buku itu, Thukul kerap membawa buku yang disewa dari perpustakaan kampung.

Selain minat baca yang tinggi, Thukul juga sudah mandiri sejak kecil. Sejak SMP, ia sudah kerja macam-macam. Mulai dari loper koran hingga jadi calo tiket bioskop.

Selulus SMP, Thukul masuk Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia atau SMKI di Solo, Jurusan Tari. Selama bersekolah di SMKI, Thukul masih aktif di kapel. Barulah ketika anak-anak kapel akan membuat teater tentang kelahiran kristus, Thukul diperkenalkan dengan Cempe Lawu Warta.

Thukul kemudian gabung dengan Teater Jagat—kependekan dari Teater Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak—dibawah asuhan Cempe Lawu Warta. Ia bergabung pada 1981, saat itu ia masih kelas II di SMKI.

Kondisi ekonomi keluarga yang susah, Thukul memutuskan berhenti sekolah. Ia menyuruh adiknya tetap melanjutkan sekolah sedangkan ia kerja di sebuah toko mebel dekat Keraton Solo sebagi tukang pelitur. Ia malah menghabiskan banyak waktunya di Jagat.

Nama semulanya Widodo diganti Lawu menjadi Thukul. Wiji Thukul berarti biji tumbuh. Lawu sepertinya mengikuti tradisi di Bengkel Teater buatan Rendra yang kerap memberi nama paraban kepada anggotanya.

Awalnya Lawu merasa kesulitan saat mengajari Thukul. Lelaki krempeng itu tak bisa menyayi, ditambah dengan sulitnya ia menyebut “r” pada latihan vokal, ia juga tidak peka di bidang musik. Selain musik, Thukul tidak bisa bermain teater ataupun menari, meskipun ia pernah mengambil jurusan tari sewaktu di SMKI. Namun akhirnya Lawu menemukan bakat tukul sebagai pujangga. Ia suka membaca dan menulis.

Disinilah Thukul digembleng hingga ia menemukan jati dirinya.

Mulanya Thukul buat puisi tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Sampai akhirnya puisi Thukul kian lugas dan kritik sosial kian kental. Thukul menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Puisi Pelo pada 1985.

Selain mengirim karyanya ke media massa, ia biasa mengamen keliling Jawa. Nama Thukul kian berkibar. Hingga ia pun berselisih paham dengan Cempu Lawu.

Sejak itu thukul tak aktif lagi di Jagat. Ia kemudian bersama Halim yang juga aktivis kebudayaan membuat Sanggar Suka Banjir sesuai dengan tempat tinggal yang mereka jadikan sanggar yang acapkali banjir. Thukul mengajak istrinya Siti Diyah Surijah alias Sipon tinggal di sini.

Pada suatu waktu, Thukul, Semsar dan Mulyono berdiskusi di tepi pantai Brumbun, Tulungagung, Jawa Timur. Topiknya penculikan dan penganiayaan hingga tewas Marsinah—seorang buruh yang melakukan seni instalasi patung. Mereka sepakat membentuk Jaringan Kesenian Rakyat atau Jaker. Tujuannya menaungi sesama seniman untuk melawan tindakan represif pemerintah.

Beberapa anggota inti Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) yang kemudian hari jadi Partai Rakyat Demokratik bergabung. Jaker pun terpecah karena perbedaan prinsip. Anggota inti seperti Semsar, Mulyono dan Hilmar keluar dari Jaker. Thukul menjadikan Jaker sebagai sayap PRD.

Sebelumnya, Thukul pernah ikut aksi demonstrasi bersama ribuan buruh dan mahasiswa lain di sepanjang jalan menuju PT Sri Rejeki Isman Texille (Sritex). Kerusuhan akhirnya pecah. Aparat membabi-buta membubarkan demonstran. Saat itu Thukul ditangkap dan dihajar habis-habisan karena dianggap sebagai dalang demonstrasi. Dipukul, tendang bahkan kepalanya dibenturkan ke kap mobil jip, menyebabkan mata kanannya rusak.

PADA 22 Juli 1996 Thukul membacakan puisi pada deklarasi berdirinya PRD di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta. Ditambah kerusuhan 27 Juli 1996 pengambil alihan kantor pusat PDIP.

Sejak itulah pelarian Wiji Thukul dimulai. Hampir separuh hidupnya ia habiskan untuk sembunyi dan berlari dari kejaran pemerintah. Dibulan yang sama juga Tim Mawar dibentuk oleh Komando Pasukan Khusus atau Kopassus untuk menculik aktivis.

Thukul nomaden. Ia selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain, satu daerah ke daerah lain. Dari Solo mula-mula ia ke Wonogiri, lalu ke Yogyakarta, Magelang dan kemudian Salatiga. Selama perjalanan ini ia menulis puisi Aku Diburu Pemerintahku Sendiri. Setelah itu pindah ke Jakarta untuk menemui Yosep Stanley Adi Prasetyo dan Arif Budiman, disini ia juga menulis puisi Buat L.Ch & A.B.

Thukul semakin sering berpindah. Pontianak, Solo, Jakarta, Parangtritis, Cikokol, Bengkulu, dan beberapa tempat lainnya sejak Juli 1996 hingga Mei 1998.

Thukul diberi kode Kulkas. Ibarat benda yang dipindah tangan oleh beberapa aktivis prodemokrasi, PRD dan seniman.

Selama persembunyiannya Thukul kerap hubungi Sipon. Ia tanya tentang kedua anaknya Wani dan Fajar. Selain itu Wahyu adik kandung Thukul, Lawu, Jaap Erkeleens dan beberapa Aktivis Prodemokrasi.

Bom meledak di unit 510 Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat pada 18 Januari 1998. Kata Prabowo Subianto, aktivis itu belum ahli merakit bom. “Salah sentuh jadinya meledak.” Peristiwa itu menjadi dalih pemerintah menyapu bersih aktivis.

Gerak Thukul tak terlihat lagi. Ia raib. Tak ada kabar sama sekali.

Keluarganya menanti. Hingga kini, Wiji Thukul yang Tuna Wicara itu tak lagi tersiar rimbanya. Masih hidup, atau mati.

BUKU ini mengisahkan perjalanan Wiji Thukul dari kecil hingga akhirnya ia hilang. Jejak persembunyian Thukul dan juga latar kehidupan dia sebagai bingkai cerita.

Pembaca akan dibawa menyelami kehidupan Wiji Thukul. Bagaimana perasaan was-was, ketakutan dan paranoid yang muncul akibat tindakan represif pemerintah saat itu.

Alur cerita bolak-balik membuat pembaca semakin merasakan intensnya gangguan dan serangan mental yang dialami Wiji Thukul.

Penulis dalam buku ini langsung terjun ke lapangan, ke gang-gang sempit dan tempat terpencil yang memiliki kaitan langsung dengan Wiji Thukul sehingga kita sebagai pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas tentang dimana Thukul saat itu, bagaimana tempat persembunyiannya.

Gaya penulisan naratif membuat buku Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang semakin mudah untuk dibaca. Secara keseluruhan buku ini cukup bagus untuk dibaca kalangan pelajar, mahasiswa maupun umum.

Sebuah buku yang menjadi jilid perdana dari seri prahara-prahara orde baru yang diangkat dari liputan khusus Tempo.*


Judul buku : Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang
Tim penyunting : Arif Zulkifli, Seno Joko Suyono, Purwanto Setiadi, Redaksi KPG
Tim Produksi : Djunaedi, Eko Punto Pambudi, Aji Yuliarto, Rizal Zulfadli, Kendra H, Agus Dermawan, Tri Watno Widodo
Tahun terbit : 2013 (cetakan ketiga, Februari 2016)
Tebal halaman : 160 hlm; 16 cm x 23 cm
Baca selengkapnya