Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Museum Abdul Latif Hasyim

Beberapa arca yang jadi koleksi Abdul Latif
Kediaman pribadi dijadikan museum. Banyak benda sejarah yang dikoleksi. Semuanya diperoleh dengan uang pribadi.

Oleh Rizky Ramadhan

PAGAR COKELAT yang sudah berkarat itu tampak terbuka. Pekarangannya dipenuhi berbagai macam tumbuhan. Sebuah kolam dengan air yang menghijau terlihat depan pintu masuk. Jembatan dibuat di atas kolam untuk melintas.

Rumah itu cukup besar dengan warna jingga di bagian luar. Di teras, beberapa tiang sepelukan orang dewasa jadi penyangga. Jendela, pintu dan kursi terbuat dari kayu. Dominasi warna bagian dalam rumah berubah jadi hijau dengan plafon cokelat. Sebelah kanan pintu ada cermin besar berukir. Di atasnya foto sepasang suami istri.
Rumah Abdul Latif yang dijadikan museum pribadi
Di sepanjang ruang tamu, beberapa foto serta lukisan terpajang. Sang empunya rumah memang memiliki hobi melukis. Aroma masakan sesekali tercium. Maklum, sang pemilik rumah sedang memasak.

Seorang pria berbusana muslim merah tua menghampiri. Rambut dan kumisnya telah memutih, menandakan umurnya tak lagi muda. Di jarinya terikat dua buah cincin batu akik.

Ia, Abdul Latif Hasyim. Bergelar Datuk Bagindo, Kepala Suku Melayu Bendang Kenegerian Kuok­, Bangkinang .

Latif seorang guru yang memiliki banyak prestasi akademik baik tingkat provinsi, nasional ataupun internasional. Mulai dari mahasiswa teladan Riau, guru teladan tingkat nasional, kepala sekolah teladan di Canada hingga kepala sekolah terbaik pada penghargaan Asean Education Award.

Tak hanya akademis, Latif juga memiliki banyak penghargaan atas keterlibatannya dalam seni dan budaya. Latif sering meneliti tentang kebudayaan Melayu dan benda bersejarah. Banyak benda sejarah peninggalan orang-orang terdahulu yang disimpan.

Latif bercerita tentang masa kecilnya yang sering bermain di rumah soko bendang milik neneknya, di Kuok. Mulai dari ruang tamu hingga loteng rumah banyak ditemukannya barang antik. Namun saat itu, Latif belum mengerti nilai dari benda-benda tersebut. Bila musim layang-layang tiba, Latif bersama temannya justru memecahkan benda-benda itu. Lalu, serpihan kacanya digiling hingga halus jadi bubuk untuk digilas dengan benang layang. “Kalau ketahuan, orang tua negur tapi gak diceritakan sejarah tentang benda itu,” kenang Latif.

Kesadaran Latif akan nilai benda sejarah sejak menempuh pendidikan menengah atas. Hasrat untuk menjaga benda-benda langka pun terus tumbuh dalam dirinya ketika berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Riau. “Kadang benda-benda itu banyak yang diperjual belikan,” kata Latif.

Latif dan keluarganya kerap berkunjung ke Malaysia. Kadang tiga kali dalam satu tahun. Di Malaysia, Latif selalu menyempatkan untuk ke museum. Benda-benda yang ia lihat di museum ini tidak jauh beda dengan apa yang ada di daerah kampar. Seperti keris, tumbuk lada, piring, gong, musik dan pakaian.

Ada juga mata uang emas dari aceh dan juga arsip buku kuno dari Kepulauan Riau. Latif yakin bahwa, benda-benda itu memang dari daerah kampar. Latif merasa, apa yang pernah dilihatnya semasa kecil terbuang begitu saja tanpa dirawat. Berbeda dengan yang dilihatnya di negeri jiran.

Latif semakin tergerak untuk melindungi benda-benda sejarah yang ada di daerah kelahirannya. Ditambah lagi, dari kunjungannya ke berbagi museum yang ada di negeri sendiri, Latif menilai pemerintah kurang perhatian. “Disinilah saya berinisiatif, setidaknya benda milik keluarga harus saya selamatkan.”

Berangsur-angsur, Latif mengumpulkan benda-benda tua milik keluarganya di rumah soko bendang di Kuok dan dipindahkan ke rumahnya. Ada perkakas rumah tangga, piring, keris, parang, guci, buku dan ukiran lama.

Setelah menikah, koleksi benda bersejarahnya semakin bertambah. Mertua, sanak saudara hingga tetangga ikut membantu Latif mengumpulkan benda-benda tersebut.

Kini, benda kuno yang Latif simpan totalnya sekitar empat ratus lebih dari beberapa jenis benda. Latif tak membuat rincian nama bendanya, namun ia mengkategorikan jenis benda pada satu tempat penyimpanan.
Keris koleksi Abdul Latif
Keris disimpan dalam koper di gudang sebelah kanan ruang makan. Bermacam bentuk dan motif keris tersimpan. Bahkan menurutnya, ada keris dari masa Kerajaan Majapahit.

Di seberangnya ada ruang kecil tempat menyimpan jenis parang, tombak dan pedang. Adapula meriam kecil dengan motif pucuk rebung, salah satu motif khas melayu. Sebelah ruang kecil itu ada satu ruangan dengan peti kayu berisi teko, perkakas rumah tangga, setrika besi dan kendi. Benda di dalam peti sudah dibungkus koran, “Agar tak cepat rusak,” jelas Latif.

Didekat peti ada beberapa guci keramik, sebagian sudah pecah sedang yang lain masih utuh. Mulai dari kecil hingga besar, berbagai warna dan motif.

Berjalan sedikit ke belakang, lalu belok kanan, ada sebuah gudang dengan dinding kusam. Dalam gudang ini terdapat lemari besar di sisi kanan dan kiri. Di sudut ruangan ada peti kayu. Di dinding atas peti melekat dua lukisan Sukarno. Yang satu tengah duduk sedang satunya berdiri.

Dalam peti itu sendiri berisi perkakas rumah tangga. Beberapa diantaranya baru dibeli Latif. “Karena tak ada tempat penyimpanan makanya dicampur,” ujar Latif. Di ruang ini, ada tangga menuju lantai dua. Dibawah tangga terdapat banyak arca batu yang tersusun. Ada dewa–dewa dalam agama Hindu, Budha serta batu yang di ukir pada zaman megalitikum.

Naik ke lantai dua, terlihat angklung menempel di tembok dekat tangga. Masuk ke ruangan sebelah kiri ada piring dari zaman dinasti China, guci, lukisan serta buku tua bertumpuk. Kami tidak dapat masuk kedalam karena di lantai penyusunannya masih berantakan. Kata Latif, ruangan tersebut tengah direnovasi.

Benda kuno yang disimpan Latif belum pernah diuji di laboratorium. Latif tak punya dana untuk mendatangkan peneliti dari pusat. “Pun di Riau tidak ada yang bisa mengujinya,” ujar Latif.

Namun, benda miliknya pernah diperlihatkan pada peneliti Malaysia. Mereka membandingkan benda milik Latif dengan benda dari luar negri yang sejenis. Misal, keramik milik Latif dibandingkan dengan keramik di China dan Eropa. Dengan bahan pembuatan yang sama, motif dan struktur juga sama. Namun mereka katakan, benda milik Latif lebih tua.

Semakin banyaknya koleksi benda tua di rumah, Latif mulai mendaftarkan rumahnya untuk dijadikan museum. Itu dilakukan mulai 4 juli 2008. Usaha Latif tak serta merta terwujud meski berulangkali ia melapor ke Dinas Pelestarian Sejarah di Jakarta. Berbagai dokumen sebagai persyaratan seperti, foto benda, CV dan proposal ia siapkan.

Pemerintah pusat kemudian menanggapi, untuk izin pendirian museum cukup lewat pemerintah daerah. Dengan syarat, harus punya yayasan atau lembaga yang menaungi.

Latif memiliki yayasan Darul Amal yang berdiri sejak 1991. Yayasan ini milik ibu nya. Pernah mendirikan masjid dan sekolah di Kuok.

Setelah itu, Latif diminta untuk berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata untuk pendataan benda-benda miliknya. Dinas Pariwisata kemudian meminta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Batusangkar, untuk datang ke rumah Latif dan mengecek benda-benda tersebut.

Kurang lebih satu minggu, tim BP3 melakukan pengukuran benda, membuat spesifikasi dan klarifikasi zamannya. Sebagian yang sudah divalidasi kemudian diberi nomor. Ada kode yang dibuat, namun Latif tak tahu artinya. “Mereka pun tidak menceritakan artinya,” ketus Latif.

BURHANUDDIN, mantan Bupati Kampar dan Latif pernah bertemu untuk diskusi terkait benda bersejarah. “Begitu dia tahu saya peneliti, setiap ada yang berhubungan dengan sejarah dia nelfon saya langsung,” kenang Latif. Bahkan ketika ada seminar tentang budaya di luar daerah, Latif selalu diundang.

Saat masih menjabat, Burhanuddin pernah berencana untuk membangun museum. Latif diminta untuk mengisi. “Pernah dua kali diminta. Tahun 2010 dan 2011. Tapi saya tidak mau,” kenangnya. Menurutnya, jika nanti barang hilang tak ada yang mau tanggungjawab.

“Nanti kalau diserahkan ke Pemda, habis masa jabatan dia diganti, disangka milik Pemda, bahaya kan?”

Untuk mengumpulkan benda-benda tua itu, Latif harus mengeluarkan dana pribadi. Uangnya diperoleh dari hasil menjual barang-barang pribadi miliknya, melelang lukisan karyanya, pembuatan kendaraan hias, pameran dan lain sebagainya. “Asal ada dana saya turun ke lokasi. Masuk goa, hutan dan tempat lainnya,” tutur Latif.

Latif berkeliling mulai dari Kuok, 13 Koto Kampar, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Siak, Natuna, Kalimantan, Jawa dan Bali. “Yang belum pernah itu Indonesia bagian timur dan aceh.”

Menurut Latif, Pemerintah Daerah tidak menaruh perhatian lebih ke sektor tersebut. “Bayangkan, saya sendiri bisa menyelamatkan hingga 400 benda. Kalaulah kompak Pemda mencari pasti bisa sampai ribuan,” saran Latif.

Jefri Al Malay sependapat dengan Latif. “Alangkah baiknya, pemerintah membantu melestarikan benda peninggalan sejarah yang ada.”

Jefri seorang sastrawan Riau. Juga sebagai asisten dosen Fakultas Ilmu Budaya—FIB— Universitas Lancang Kuning. Kesehariannya, Jefri juga bekerja sebagai wartawan di Riau Pos. Menulis seni dan budaya melayu di rubrik Ranggi, mingguan. Tulisan Jeffri tentang museum Latif pernah terbit di rubrik ini.

Setelah perkenalannya, Jefri bersama Dr. Junaidi, Dekan FIB membantu Latif untuk menyusun benda-benda miliknya terutama manuskrip ke dalam katalog.

Saranan, Kasi Sejarah dan Konservasi Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kampar mengatakan, pemerintah sudah melakukan upaya penanganan benda bersejarah. Seperti pendataan benda kuno yang dimiliki penduduk di tiap kecamatan di Kabupaten Kampar.

“Kami tidak bisa menarik atau meminta benda tersebut karena itu benda turun-temurun milik keluarga. Pun, Pemerintah Kampar belum punya museum untuk menyimpannya,” jelas Saranan.

Saat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berada dalam satu institusi, Pemerintah Kabupaten Kampar pernah mengajukan usulan pembangunan museum ke Pemerintah Pusat. Hingga kini usulan tersebut belum juga terkabul. “Padahal untuk lahan kita ada. Namun dana jadi alasan tak terselesainya rencana ini.”

Latif cerita, 80 persen benda di rumahnya sebagian besar didapat di daerah Kampar. Sisanya dari daerah Bengkalis, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Maluku.

Seringnya Latif meneliti budaya membuat warga tahu bahwa ia juga menyimpan benda bersejarah. Dari sinilah beberapa orang datang untuk mengantar benda padanya.

Kata Latif, orang yang mengantar benda ke rumahnya punya alasan beragam. Ada yang datang karena butuh biaya, takut benda tersebut membawa bala, namun adapula yang takut ditangkap aparat karena menyimpan benda langka.

Ada juga warga yang menitipkan benda atas dasar kepercayaan, kalau benda itu disimpan pasti tak selamat. Makanya diberikan ke Latif dengan imbalan ganti rugi. Pun, ketika orang itu suatu waktu datang kembali untuk melihat benda, masih ada.

Bila ada yang mengantar benda ke rumah, Latif selalu bertanya asal usul benda tersebut. Hal ini untuk mengetahui sumber benda dan membuat ringkasan cerita mengenai benda tersebut. Namun ada yang malah takut ketika ditanya dan tidak datang lagi. “Mungkin dikiranya kita mau nangkap.”

Asnin, pemuda yang sering membantu Latif meneliti benda bersejarah mengatakan, orang yang menemukan benda bersejarah ini secara hukum tidak terlindungi karena mereka merasa mudah dikriminalisasi. “Itu yang menyebabkan barang itu tidak muncul di permukaan. Padahal benda itu banyak.”

Asnin sempat mendengar, seseorang dari Kuok menemukan meriam. Meriam tersebut dibawa ke rumah untuk disimpan. Lalu, datang aparat sambil bawa pistol. “Terpaksa diserahkan dan akhirnya dijual.”

Saranan mengungkapkan, bagi masyarakat yang mengantar benda ke pemerintah akan diberi reward seperti penggantian harga atas barang tersebut. “Namun sampai saat ini belum ada masyarakat yang melakukannya.”

LATIF berdiri, kemudian beranjak menuju ruangan lain. Sekembalinya ia membawa bungkusan plastik. “Ini fosil kerang laut,” tunjuknya ke beberapa kerang yang sudah membatu. Kerang ini didapat di daerah Kuok berkat informasi dari masyarakat.

Tak hanya kerang, Latif juga menemukan dayung yang sudah membatu. Selain itu, Latif dan tim pernah melakukan penggalian sedalam 65 meter. Disana ditemukan air dengan kadar garam yang tinggi. Air itu kemudian Latif bawa dan disimpan dalam wadah tertutup dirumahnya.

Tak hanya fosil kerang, Latif juga menunjukkan fosil telur yang berukuran cukup besar. Ada tiga fosil yang diperlihatkannya. Satu masih utuh dengan bentuk bulat telur, sedang dua lagi sudah pecah. Bagian dalam yang sudah pecah terlihat warna kuning seperti kuning telur.

Sekilas memang tampak seperti batu biasa, namun ukuran dan juga bentuk serta bagian dalam tampak berbeda. “Apalagi tak hanya tiga ini yang kami lihat disana, tapi ada banyak dan daerah sana bukan daerah berbatu,” ujar Latif.

Abdul Latif Hasyim tetap akan menyimpan benda bersejarah yang ada dirumahnya. Ia tak akan menjual walau sebarang pun. Karena menurutnya, benda itu haruslah dijaga. Laki-laki yang pernah meraih Asean Education Award pada 2011 sebagai kepala sekolah terbaik ini, berharap akan timbulnya kesadaran di masyarakat arti pentingnya sejarah.*
Baca selengkapnya

Thursday, October 13, 2016

Paritan, Tradisi Khas Desa Sungai Linau

Penguburan kepala sapi


Cara masyarakat Desa Sungai Linau mengucap syukur terhadap limpahan rezeki yang mereka peroleh. Mulai dari yasinan hingga makan bersama.

Oleh Trinata Pardede

PAGI ITU SEORANG LELAKI BERBAJU MELAYU HITAM POLOS BERDIRI DI DEPAN LUBANG. Tak besar, hanya selebar satu jengkal tangan pria dewasa dan kedalamannya sekitar 20 centimeter. Melihat ke dalam lubang, ada cairan kemerahan yang mengisinya. Ini darah dari tiga ekor kambing yang baru saja dipotong.

Lelaki ini bernama Wasono. Ia merupakan tetua di Desa Sungai Linau. Berumur 58 tahun dan kerap disapa Mbah, ia diberi kepercayaan menjalankan ritual adat khas Sungai Linau, Kecamatan Siak Kecil, Bengkalis. Paritan. Wasono telah berdiri di depan lubang dan bersiap menutupnya. Kain putih selebar setengah meter ini dibentangkan. Satu bagian potongan kaki dan irisan kulit kepala kambing disusun diatasnya. Disimpul dalam satu ikatan, kemudian dimasukkan ke dalam lubang. Tahun lalu, kaki ditanam bersama potongan utuh kepala kambing. Karena pertimbangan masih banyak manfaatnya maka diganti tahun ini hanya irisan kulit kepala.

Wasono jelaskan darah dan irisan kulit dari kepala itu perlambang pemberian masyarakat dan ucapan syukur kepada Sang pencipta. Dari saku ia ambil secarik kertas, dibakar, dan ia langsung berkomat-kamit. Tak tahu apa yang dikatakannya. Setelah selesai, ia segera menutup semua bahan di lubang dengan tanah. Selesailah prosesi inti dari acara Paritan.

SUDAH DUA TAHUN WASONO PIMPIN TRADISI PARITAN. “Warga yang minta agar saya yang terima arwah itu,” ucapnya. Ilmu ini diwariskan dari silsilah keluarga. Ia dapat dari ayahnya, Bardi, sebelumya ada Amir Yunus dan sesepuh yang pertama kali perkenalkan tradisi ini adalah Supardi.

Kegiatan ini sudah berjalan selama tiga puluh lima tahun. Namun lima tahun pertama, mereka melakukannya sesuai dengan suku yang ada di desa. Sebab warga awal di Sungai Linau adalah transmigran berasal dari berbagai suku Jawa. Ada berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Setelah administrasi desa dibuat dan dipimpin seorang kepala desa, barulah setiap ketua suku dipertemukan untuk menyatukan acara bersih desa dengan satu kegiatan dan nama baru. Semua sepakat, bersih desa dinamakan Paritan.

Paritan bermakna bersedekah kepada bumi. Dalam budaya Jawa, ini bentuk ucapan terima kasih kepada tuhan karena masyarakat diberi hasil panen yang banyak. Sehingga diperlukan upacara pengucapan syukur dan bersihkan diri untuk lebih ingat lagi dengan pencipta.

Paritan ke tiga puluh lima ini jatuh pada 8 September tahun lalu. Dalam hitungan kalender Jawa, 24 Sela 1948 di Selasa Kliwon. “Semua ini sudah ada perhitungannya, tidak bisa salah,” ucap Wasono. Perayaan ini jatuh dalam hari ketujuh, pasaran lima tahun kedelapan diwindu keempat.

Doa bersama warga sebelum makan


SEBELUM ACARA INTI PARITAN PADA PAGI HARI, masyarakat sibuk siapkan rangkaian acara. Mulai dari rapat pembahasan hingga yasinan dan kenduri. Semua warga berpartisipasi mensukseskan kegiatan ini.

Pada 7 September siang, balai pertemuan adat desa ramai, dua sisi bilik penuh warga. Panganan yang sudah dimasak bersama oleh warga satu persatu mulai dikeluarkan. Nasi suci atau nasi putih, gulai kambing dan ayam yang pertama datang. Ada tekol suci ulang tari atau nasi uduk selanjutnya dihidangkan. “Ini ungkapan syukur kita kepada Nabi Muhamad sebagai tokoh panutan,” ucap Wasono. Tidak lupa juga nasi tumpeng juga disajikan. “Bentuk segitiga itu gambarkan harapan warga kampung agar tetap ‘lurus’ dan doa selama ini dikabulkan,” lanjut Wasono.

Warga berkumpul dan bersantap makanan bersama

Kemudian ada warga yang bawa dua piring, sebelah kiri ketupat, kanan rebusan ubi kayu dan kentang. Makanan ini perlambang obat yang akan menyembuhkan penyakit yang diderita warga. Juga bubur nasi bewarna merah dan putih dua piring. Namun menurut penjelasan Wasono, seharusnya bubur nasi ini ada 5 piring. Dua piring berisi penuh bubur merah dan putih. Dua lagi berisi setengah, terakhir dalam satu piring digabung dua warna tadi. Merah perlambang keberanian dan putih kesucian.

Hidangan terakhir, nasi kuning dipadukan dengan telur rebus dan pulut kunyit. “Ini buat sanak danyang yang menjaga kampung,” ucap Wasono. Sanak danyang sebutan warga untuk makhluk gaib. Ini bentuk permintaan maaf jika ada kesalahan yang dilakukan warga desa.

Usai semua telah dihidangkan, seluruh warga menyatu santap hidangan yang tersedia. Dalam tradisi masyarakat, warga akan membawa tempat makanan yang diletakkan di dapur. Setelah acara makan selesai, nanti akan diambil lagi karena para juru masak sudah memasukkan bekal makanan kedalamnya. Selagi persediaan makanan cukup, warga akan dibekali lebih, tiap mereka dapat satu kantong berisi makanan.

Usai makan bersama atau kenduri, malam harinya warga akan mengadakan wirid yasin. Masyarakat bersama membaca doa agar desa mereka dapat selalu dilindungi dan dibersihkan dari berbagai kesalahan. Sehingga warga dapat hidup rukun dan menghasilkan panen yang baik. Setelahnya akan diisi dengan iringan musik kompang. Menurut Wasono, juga pernah ada diisi dengan penampilan kuda lumping, wayang ataupun jaranan.

Berganti pagi, barulah tiga kambing yang tersedia didapat dari pungutan tiap warga dipotong oleh Ahmad Sujangik. Ia tokoh agama disana dan selalu dipercaya warga untuk memotong hewan ternak yang akan disajikan saat pesta. Setelah didoakan oleh Wasono, kambing dibakar dan dimasak oleh warga.

WALAUPUN INI ACARA DESA, Wasono mengeluhkan sekarang tidak banyak warga yang peduli. Untuk adakan makan bersama serta membeli kambing, tiap warga dimintai sumbangan Rp 50 ribu. Namun masih banyak yang belum mau berpartisipasi. “Ada yang nyumbang tapi cuma Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” keluh Wasono.

Menurut Jangik—sapaan akrab Ahmad Sujangik—partisipasi masyarakat juga menurun. Ia bandingkan dengan empat tahun lalu, jumlah anak-anak yang datang hadiri prosesi acara ini ramai. Namun tiap tahun terus berkurang. Ia merasa kesadaran warga terkait makna dari Paritan tidak banyak lagi yang tahu, “Malah lebih ramai pesta pernikahan,” ujarnya.

Menurut Elmustian Rahman, Peneliti Kebudayaan Melayu Riau, budaya ini haruslah menyatu dengan masyarakat. Dimana tiap langkah dalam prosesinya memiliki makna tersendiri yang harus dipahami setiap warga. Sehingga lebih mengakar kepada masyarakat. “Seperti menanam kepala kambing, itu dimaknai sebagai tolak bencana, atau disebut disemah,” ujar Elmustian. Namun sudah banyak percampuran budaya, terutama dipengaruhi ajaran islam serta budaya melayu karena ada di Bengkalis.#
Baca selengkapnya