Paritan, Tradisi Khas Desa Sungai Linau
![]() |
| Penguburan kepala sapi |
Cara masyarakat Desa Sungai Linau mengucap syukur terhadap limpahan rezeki yang mereka peroleh. Mulai dari yasinan hingga makan bersama.
Oleh Trinata Pardede
PAGI ITU SEORANG LELAKI BERBAJU MELAYU HITAM POLOS BERDIRI DI DEPAN LUBANG. Tak besar, hanya selebar satu jengkal tangan pria dewasa dan kedalamannya sekitar 20 centimeter. Melihat ke dalam lubang, ada cairan kemerahan yang mengisinya. Ini darah dari tiga ekor kambing yang baru saja dipotong.
Lelaki ini bernama Wasono. Ia merupakan tetua di Desa Sungai Linau. Berumur 58 tahun dan kerap disapa Mbah, ia diberi kepercayaan menjalankan ritual adat khas Sungai Linau, Kecamatan Siak Kecil, Bengkalis. Paritan. Wasono telah berdiri di depan lubang dan bersiap menutupnya. Kain putih selebar setengah meter ini dibentangkan. Satu bagian potongan kaki dan irisan kulit kepala kambing disusun diatasnya. Disimpul dalam satu ikatan, kemudian dimasukkan ke dalam lubang. Tahun lalu, kaki ditanam bersama potongan utuh kepala kambing. Karena pertimbangan masih banyak manfaatnya maka diganti tahun ini hanya irisan kulit kepala.
Wasono jelaskan darah dan irisan kulit dari kepala itu perlambang pemberian masyarakat dan ucapan syukur kepada Sang pencipta. Dari saku ia ambil secarik kertas, dibakar, dan ia langsung berkomat-kamit. Tak tahu apa yang dikatakannya. Setelah selesai, ia segera menutup semua bahan di lubang dengan tanah. Selesailah prosesi inti dari acara Paritan.
SUDAH DUA TAHUN WASONO PIMPIN TRADISI PARITAN. “Warga yang minta agar saya yang terima arwah itu,” ucapnya. Ilmu ini diwariskan dari silsilah keluarga. Ia dapat dari ayahnya, Bardi, sebelumya ada Amir Yunus dan sesepuh yang pertama kali perkenalkan tradisi ini adalah Supardi.
Kegiatan ini sudah berjalan selama tiga puluh lima tahun. Namun lima tahun pertama, mereka melakukannya sesuai dengan suku yang ada di desa. Sebab warga awal di Sungai Linau adalah transmigran berasal dari berbagai suku Jawa. Ada berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Setelah administrasi desa dibuat dan dipimpin seorang kepala desa, barulah setiap ketua suku dipertemukan untuk menyatukan acara bersih desa dengan satu kegiatan dan nama baru. Semua sepakat, bersih desa dinamakan Paritan.
Paritan bermakna bersedekah kepada bumi. Dalam budaya Jawa, ini bentuk ucapan terima kasih kepada tuhan karena masyarakat diberi hasil panen yang banyak. Sehingga diperlukan upacara pengucapan syukur dan bersihkan diri untuk lebih ingat lagi dengan pencipta.
Paritan ke tiga puluh lima ini jatuh pada 8 September tahun lalu. Dalam hitungan kalender Jawa, 24 Sela 1948 di Selasa Kliwon. “Semua ini sudah ada perhitungannya, tidak bisa salah,” ucap Wasono. Perayaan ini jatuh dalam hari ketujuh, pasaran lima tahun kedelapan diwindu keempat.
![]() |
| Doa bersama warga sebelum makan |
SEBELUM ACARA INTI PARITAN PADA PAGI HARI, masyarakat sibuk siapkan rangkaian acara. Mulai dari rapat pembahasan hingga yasinan dan kenduri. Semua warga berpartisipasi mensukseskan kegiatan ini.
Pada 7 September siang, balai pertemuan adat desa ramai, dua sisi bilik penuh warga. Panganan yang sudah dimasak bersama oleh warga satu persatu mulai dikeluarkan. Nasi suci atau nasi putih, gulai kambing dan ayam yang pertama datang. Ada tekol suci ulang tari atau nasi uduk selanjutnya dihidangkan. “Ini ungkapan syukur kita kepada Nabi Muhamad sebagai tokoh panutan,” ucap Wasono. Tidak lupa juga nasi tumpeng juga disajikan. “Bentuk segitiga itu gambarkan harapan warga kampung agar tetap ‘lurus’ dan doa selama ini dikabulkan,” lanjut Wasono.
![]() |
| Warga berkumpul dan bersantap makanan bersama |
Kemudian ada warga yang bawa dua piring, sebelah kiri ketupat, kanan rebusan ubi kayu dan kentang. Makanan ini perlambang obat yang akan menyembuhkan penyakit yang diderita warga. Juga bubur nasi bewarna merah dan putih dua piring. Namun menurut penjelasan Wasono, seharusnya bubur nasi ini ada 5 piring. Dua piring berisi penuh bubur merah dan putih. Dua lagi berisi setengah, terakhir dalam satu piring digabung dua warna tadi. Merah perlambang keberanian dan putih kesucian.
Hidangan terakhir, nasi kuning dipadukan dengan telur rebus dan pulut kunyit. “Ini buat sanak danyang yang menjaga kampung,” ucap Wasono. Sanak danyang sebutan warga untuk makhluk gaib. Ini bentuk permintaan maaf jika ada kesalahan yang dilakukan warga desa.
Usai semua telah dihidangkan, seluruh warga menyatu santap hidangan yang tersedia. Dalam tradisi masyarakat, warga akan membawa tempat makanan yang diletakkan di dapur. Setelah acara makan selesai, nanti akan diambil lagi karena para juru masak sudah memasukkan bekal makanan kedalamnya. Selagi persediaan makanan cukup, warga akan dibekali lebih, tiap mereka dapat satu kantong berisi makanan.
Usai makan bersama atau kenduri, malam harinya warga akan mengadakan wirid yasin. Masyarakat bersama membaca doa agar desa mereka dapat selalu dilindungi dan dibersihkan dari berbagai kesalahan. Sehingga warga dapat hidup rukun dan menghasilkan panen yang baik. Setelahnya akan diisi dengan iringan musik kompang. Menurut Wasono, juga pernah ada diisi dengan penampilan kuda lumping, wayang ataupun jaranan.
Berganti pagi, barulah tiga kambing yang tersedia didapat dari pungutan tiap warga dipotong oleh Ahmad Sujangik. Ia tokoh agama disana dan selalu dipercaya warga untuk memotong hewan ternak yang akan disajikan saat pesta. Setelah didoakan oleh Wasono, kambing dibakar dan dimasak oleh warga.
WALAUPUN INI ACARA DESA, Wasono mengeluhkan sekarang tidak banyak warga yang peduli. Untuk adakan makan bersama serta membeli kambing, tiap warga dimintai sumbangan Rp 50 ribu. Namun masih banyak yang belum mau berpartisipasi. “Ada yang nyumbang tapi cuma Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu,” keluh Wasono.
Menurut Jangik—sapaan akrab Ahmad Sujangik—partisipasi masyarakat juga menurun. Ia bandingkan dengan empat tahun lalu, jumlah anak-anak yang datang hadiri prosesi acara ini ramai. Namun tiap tahun terus berkurang. Ia merasa kesadaran warga terkait makna dari Paritan tidak banyak lagi yang tahu, “Malah lebih ramai pesta pernikahan,” ujarnya.
Menurut Elmustian Rahman, Peneliti Kebudayaan Melayu Riau, budaya ini haruslah menyatu dengan masyarakat. Dimana tiap langkah dalam prosesinya memiliki makna tersendiri yang harus dipahami setiap warga. Sehingga lebih mengakar kepada masyarakat. “Seperti menanam kepala kambing, itu dimaknai sebagai tolak bencana, atau disebut disemah,” ujar Elmustian. Namun sudah banyak percampuran budaya, terutama dipengaruhi ajaran islam serta budaya melayu karena ada di Bengkalis.#


